Hal tersebut dibuktikan dengan adanya berbagai peninggalan kerajaan-kerajaan terdahulu yang pernah berkuasa di tanah Nusantara. Salah satu bentuk peninggalan sejarah yang penting adalah prasasti, yaitu tulisan atau catatan sejarah yang diukir pada bahan keras dan tahan lama, biasanya berupa batu.
Salah satu prasasti penting yang ditemukan di wilayah Bogor adalah Prasasti Pasir Awi, yang terletak di kawasan hutan Perbukitan Cipamingkis, Desa Sukamakmur, Jonggol, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Prasasti ini ditemukan pada tahun 1864 oleh seorang arkeolog Belanda bernama N.W. Hoepermans S. di lereng selatan Bukit Pasir Awi pada ketinggian sekitar 559 meter di atas permukaan laut.
Prasasti Pasir Awi memiliki keunikan tersendiri jika dibandingkan dengan prasasti-prasasti lain yang ditemukan di Jawa Barat. Umumnya, prasasti ditemukan di dekat aliran sungai, namun Prasasti Pasir Awi justru ditemukan di wilayah perbukitan. Penemuan ini sangat penting bagi sejarah Indonesia karena memberikan informasi mengenai masa Kerajaan Tarumanegara.
Baca Juga: Menelusuri Sejarah Perkembangan Kota Bogor yang Dulu Dikenal dengan Nama Resmi Buitenzorg
Pada prasasti tersebut terdapat aksara dan jejak telapak kaki yang diyakini merupakan milik Raja Purnawarman dari Kerajaan Tarumanegara. Aksara yang digunakan adalah jenis aksara ikal yang hingga kini belum dapat dibaca secara pasti. Selain aksara dan jejak telapak kaki, terdapat pula piktograf berbentuk dahan dengan ranting, daun, dan buah.
Menurut seorang geolog Belanda bernama Rogier Diederik Marius Verbeek, piktograf tersebut mungkin memiliki makna sebagai simbol tahun, namun belum ada kepastian mengenai interpretasi yang tepat. Meskipun belum dapat dibaca secara lengkap, jejak telapak kaki pada prasasti ini memberikan petunjuk mengenai fungsi prasasti tersebut.
Kemungkinan besar, prasasti ini berfungsi sebagai tanda kepemilikan suatu wilayah. Jejak telapak kaki yang diyakini milik Raja Purnawarman menunjukkan keberhasilannya dalam menguasai wilayah tersebut. Penggunaan jejak telapak kaki pada prasasti ini mungkin sebagai tanda keaslian dan kepemilikan atas wilayah tersebut.
Editor : Candra Mega Sari