JP Bogor - Jack The Ripper, sosok pembunuh berantai yang meneror distrik Whitechapel, London, pada akhir abad ke-19, telah lama menjadi misteri.
Namun, setelah hampir 140 tahun, seorang sejarawan sekaligus penulis Inggris bernama Russell Edwards mengklaim telah berhasil mengungkap identitas sebenarnya dari pembunuh legendaris ini.
Dilansir dari New York Post pada Sabtu (15/2/2025), Edwards menyatakan bahwa identitas Jack The Ripper akhirnya terungkap melalui analisis DNA. Ia mengungkapkan bahwa pembunuh tersebut adalah Aaron Kosminski, seorang imigran Polandia yang bekerja sebagai tukang cukur di London pada usia 23 tahun.
Kosminski diketahui pindah ke Inggris sejak kecil dan bekerja sebagai tukang cukur di Whitechapel.
Menurut Edwards, pada tahun 1885, Kosminski mulai menunjukkan tanda-tanda gangguan mental dan beberapa kali dirawat di rumah sakit jiwa.
Sebelum meninggal di usia 53 tahun, Kosminski dilaporkan mengalami halusinasi pendengaran, merasa ketakutan terhadap orang lain, menolak makan, dan enggan mandi.
Kominski disebut meninggal di rumah sakit jiwa pada tahun 1919.
Bukti utama yang digunakan dalam penelitian ini adalah selendang yang ditemukan di lokasi salah satu pembunuhan. Selendang tersebut diuji dan ditemukan mengandung DNA yang cocok dengan keturunan langsung salah satu korban. Edwards mengungkapkan bahwa momen tersebut merupakan titik balik dalam pencarian identitas Jack The Ripper.
“Ketika kami mencocokkan DNA dari darah di selendang itu dengan keturunan perempuan langsung dari korban, itu adalah momen paling menakjubkan dalam hidup saya saat itu,” tutur Edwards dalam sebuah wawancara dengan program Australian Today Show.
"Kami menguji sperma yang tertinggal di selendang itu. Ketika kami mencocokkannya, saya tercengang karena kami benar-benar telah menemukan siapa sebenarnya Jack The Ripper," lanjut Edwards.
Edwards membeli selendang yang ditemukan di lokasi pembunuhan Catherine Eddowes pada tahun 2007 dan terus meneliti asal-usulnya.
“Itu adalah perjalanan penemuan, dengan banyak lika-liku,” kata Edwards.
“Petualangan itu mendebarkan dari awal hingga akhir dan saya beruntung bisa mengalaminya," lanjutnya.
Meski penelitian Edwards dianggap sebagai terobosan dalam mengungkap identitas Jack The Ripper, sejumlah pihak masih meragukan klaim tersebut.
Beberapa skeptis menyoroti keterlibatan Edwards dalam kasus pada tahun 2022, di mana ia diduga berpura-pura menemukan bagian atas tengkorak seorang anak, yang kemudian memicu penyelidikan baru terhadap jasad Keith Bennett.
Sebagai informasi, kasus Bennett terkait dengan Pembunuhan Moors, serangkaian kejahatan mengerikan yang terjadi antara 1963 dan 1965 di Manchester, Inggris. Kejahatan tersebut dilakukan oleh Ian Brady dan Myra Hindley, yang membunuh lima anak. Hingga kini, jasad Keith Bennett masih menjadi satu-satunya korban yang belum ditemukan.
Sementara itu, keluarga korban mendesak Scotland Yard untuk membuka kembali penyelidikan agar identitas Jack The Ripper dapat dikonfirmasi secara hukum. Edwards berharap penelitiannya dapat memberikan jawaban pasti bagi banyak pihak yang telah lama mencari kebenaran di balik kasus ini.
"Kami sudah mendapatkan buktinya, sekarang kami perlu penyelidikan ini untuk mengungkap identitas pembunuhnya secara hukum," kata Edwards.
"Akan sangat berarti bagi saya, bagi keluarga saya, bagi banyak orang jika akhirnya kejahatan ini terpecahkan," tambahnya.
Jack The Ripper dikenal karena membunuh dan memutilasi lima wanita, yang sebagian besar merupakan pekerja seks, antara tahun 1888 hingga 1891.
Para korban yang diketahui adalah Mary Nichols (43), Annie Chapman (47), Elizabeth Stride (44), Catherine Eddowes (46), dan Mary Jane Kelly (25). Beberapa di antara mereka mengalami amputasi organ dalam.
(*)
Editor : Siti Nur Qasanah