Teras Bogor Viralpedia Wisata dan Kuliner Lifestyle

George Orwell, Penulis Klasik yang Membisikkan Anti-Totalitarianisme dari Inggris

Abdul Hamid Dhaifullah • Jumat, 16 Mei 2025 | 19:00 WIB

George Orwell atau Eric Arthur Blair (Dok. Pinterest)
George Orwell atau Eric Arthur Blair (Dok. Pinterest)
JP Bogor - Lebih dari tujuh dekade setelah kematiannya, nama George Orwell masih menggema di lorong-lorong diskusi tentang kekuasaan, kebebasan, dan bahasa. Melalui Animal Farm dan Nineteen Eighty-Four, Orwell menulis bukan hanya fiksi, melainkan peta moral untuk mengarungi abad ke-20 sampai kini, abad ke-21.

Lahir di Motihari, India, pada 25 Juni 1903, Eric Arthur Blair tumbuh dalam keluarga Inggris yang nyaris tak bergelimang harta, tetapi sarat ambisi kelas. Sejak muda, ia sudah akrab dengan ketimpangan sosial. Masa kecilnya ia habiskan di Inggris bersama ibunya, terpisah dari ayahnya yang bekerja sebagai pejabat opium di jajaran kolonial. Ia kemudian menempuh pendidikan di sekolah-sekolah elit seperti St. Cyprian's dan Eton, bukan sebagai bangsawan, tetapi sebagai penerima beasiswa.

Namun alih-alih menempuh jalur akademis, Blair memilih jalur kolonial. Sebagai polisi kekaisaran Inggris di Burma, ia menyaksikan langsung wajah imperialisme yang dingin dan tak manusiawi. Dari pengalaman itulah lahir esai "Shooting an Elephant" dan novel Burmese Days, yang menyingkap luka batin seorang penjaga sistem yang tak lagi ia percayai.

Pulang ke Inggris, Blair menjelma menjadi George Orwell. Ia menulis dari sudut-sudut terlupakan di Paris dan London, hidup sebagai pengemis, guru, dan penjual buku. Ia menggali kehidupan kaum miskin, bukan untuk mengasihani, melainkan untuk menggugat sistem yang melanggengkan ketimpangan. Bukunya Down and Out in Paris and London (1933) adalah surat cinta pahit kepada realitas yang sering diabaikan kaum menengah.

Titik balik terjadi ketika ia menyaksikan langsung kegagalan idealisme kiri di Spanyol. Sebagai sukarelawan dalam Perang Saudara Spanyol (1936–1937), ia terluka oleh peluru dan oleh pengkhianatan ideologis. Soviet yang seharusnya menjadi sekutu dalam melawan fasisme justru memberangus sesama sayap kiri dengan dalih Trotskisme. Dari pengalaman getir ini lahirlah Homage to Catalonia, dan dari luka itu pula lahir kebenciannya yang konsisten terhadap segala bentuk totalitarianisme.

Perang Dunia II membawanya ke BBC, lembaga yang kemudian ia juluki sebagai "antara sekolah perempuan dan rumah sakit jiwa." Namun justru dari rasa frustrasi terhadap birokrasi dan sensor, Orwell menyusun gambaran dunia distopia yang sempurna, novel "Nineteen Eighty-Four". Sebuah dunia di mana kebenaran dibengkokkan, bahasa direduksi, dan pikiran dijinakkan.

Orwell menulis hingga paru-parunya menyerah. Ia menyelesaikan Nineteen Eighty-Four di pulau terpencil Jura, Skotlandia, sambil berjuang melawan tuberkulosis yang akhirnya merenggut nyawanya pada Januari 1950, di usia 46 tahun. Namun kematiannya bukan akhir, melainkan awal dari keabadian ide.

Warisan Orwell bukan sekadar dua novel besar. Ia mewariskan kepada dunia cara berpikir: bahwa bahasa bukan hanya alat komunikasi, tapi senjata politik. Bahwa kebebasan adalah kemampuan untuk mengatakan bahwa dua tambah dua adalah empat meski dunia bersikeras menyebutnya lima.

Editor : Candra Mega Sari
#novel #penulis #inggris #George Orwell