JP Bogor – Di balik gerbang megah dan arsitektur agung yang menjulang di jantung kota Roma, terdapat negara paling mungil di dunia dengan kekuasaan spiritual mendunia, Vakni tikan. Dengan luas hanya 44 hektar, negara ini tak butuh waktu seharian untuk dijelajahi, bahkan tanpa visa. Namun, sejarahnya menandingi imperium manapun di dunia.
Siapa sangka bahwa kawasan yang kini menjadi pusat Gereja Katolik ini dulunya hanyalah lahan rawa tak berpenghuni bernama Ager Vaticanus. Sekitar tahun 33 M, Agrippina sang Penatua mengeringkan tanah berlumpur itu dan menghadirkan taman. Tak lama kemudian, anaknya, Kaisar Caligula, membangun arena sirkus yang akhirnya menjadi tempat eksekusi St. Petrus, seorang murid Yesus yang kelak namanya diabadikan dalam basilika termegah di dunia.
Pada tahun 326, gereja pertama dibangun di atas makam St. Petrus. Seiring waktu, Paus tak hanya memimpin rohani, tetapi juga wilayah, maka muncullah Papal States yang membentang luas di Italia tengah hingga abad ke-19. Namun, semua berubah ketika Italia bersatu tahun 1870. Paus kehilangan wilayahnya dan menjadi "tahanan" dalam tembok Vatikan, memicu Roman Question selama hampir 60 tahun.
Jawaban untuk pertanyaan Romawi itu datang pada 11 Februari 1929, ketika Perjanjian Lateran ditandatangani antara Paus Pius XI dan Benito Mussolini. Lahirlah Vatikan sebagai negara independen, dengan Paus sebagai penguasa absolut. Italia memberikan ganti rugi atas hilangnya wilayah gereja, dan dunia pun menyaksikan kelahiran negara dengan penduduk sekitar seribu orang dan pengaruh lintas benua.
Saat Perang Dunia II membakar Eropa, Vatikan tetap netral. Meskipun Roma diduduki Jerman, Vatikan tak disentuh. Bahkan, AS melarang pilot Katolik ikut mengebom kota suci itu, kecuali mereka bersedia secara sukarela. Sikap netral itu menunjukkan bagaimana Vatikan tak hanya kuat secara spiritual, tapi juga strategis secara politis.
Kini, Vatikan menjadi destinasi spiritual dan budaya yang menyedot jutaan turis setiap tahun. Dari Sistine Chapel dengan langit-langit karya Michelangelo yang mendunia, hingga museum dan arsip rahasia yang menyimpan sejarah peradaban, Vatikan menjadi bukti bahwa negara kecil pun bisa meninggalkan jejak besar dalam sejarah umat manusia. (*)
Editor : Siti Nur Qasanah