Teras Bogor Viralpedia Wisata dan Kuliner Lifestyle

Sejarah Panjang 8 Maret dan Kaitannya dengan Perayaan Hari Perempuan Sedunia

Abdul Hamid Dhaifullah • Minggu, 9 Maret 2025 | 08:30 WIB
Ilustrasi perempuan mengucapkan perayaan Hari Perempuan Sedunia. (freepik.com)
Ilustrasi perempuan mengucapkan perayaan Hari Perempuan Sedunia. (freepik.com)

JP Bogor – Perjuangan para perempuan belum pernah selesai. Atas dasar itulah, Hari Perempuan Sedunia akan tetap terus dirayakan pada tanggal 8 Maret di tiap tahunnya. Di Jakarta, perayaan ini biasa dilakukan dengan aksi pawai panjang mengelilingi Bundaran HI lalu diakhiri dengan mendengarkan orasi dari berbagai pihak penyelenggara acara.

Penetapan tanggal 8 Maret sebagai Hari Perempuan Sedunia memiliki kisah historis yang cukup panjang. Berdasarkan fakta sejarah yang ditulis dalam situs resmi International Women’s Day (IWD), sebelum penetapan tanggal 8 Maret, IWD sudah jauh berakar terlebih dahulu dari gerakan pemenuhan hak-hak perempuan pada 28 Februari 1909. Jauh sebelum gerakan feminisme tahun 1960-an berkembang.

Adalah Theresa Malkiel dari Amerika yang pertama kali memperkenalkan usul "Hari Perempuan Nasional". Dirinya terinspirasi dari legenda urban tentang protes pekerja perempuan di industri garmen New York pada 8 Maret 1857.

Usul Malkiel kemudian menginspirasi seorang sosialis Jerman, Luise Zietz, untuk mengusulkan hal serupa dalam skala internasional dan dirayakan di setiap tahunnya. Dua tokoh feminisme saat itu, Claire Zetkin dan Kate Duncker, mendukung usul tersebut.

Oleh karena itu, pada Konferensi Internasional Perempuan Pekerja di Kopenhagen pada tahun 1910, usulan itu mendapatkan dukungan penuh dengan total 100 suara perempuan dari 17 negara yang hadir pada konferensi itu.

Setelah itu, baru setahun kemudian, Hari Perempuan Sedunia atau IWD pertama kali dirayakan. 19 Maret 1911 menjadi hari pertama perayaan resmi Hari Perempuan Sedunia. Perayaan diselenggarakan di berbagai negara seperti Austria, Denmark, Jerman, dan Swiss. Lebih dari satu juta orang mengikuti perayaan itu. Semuanya menuntut akan hak memilih bagi perempuan, penghapusan diskriminasi gender di tempat kerja, dan kesempatan bagi perempuan untuk menduduki jabatan publik.

Perayaan pertama kali ini mulai menyebarkan dampak signifikan bagi pergerakan perempuan di berbagai belahan dunia. Salah satu dampak besar terjadi di Rusia. Pada tahun 1913 Rusia pertama kali mengakui perayaan Hari Perempuan Sedunia. Pengakuan itu mendorong pergerakan perempuan Rusia sampai terjadi aksi perempuan di St. Petersburg yang ikut ambil bagian penting dalam perkembangan Revolusi Rusia.

Puncaknya terjadi pada tanggal 8 Maret 1917 saat para perempuan Rusia melakukan mogok besar-besaran dan menuntut "Roti dan Perdamaian", berisi seruan untuk mengakhiri Perang Dunia 1, Kekaisaran Tsar, dan kelaparan.

Pemerintah Cina pun mulai mengenal IWD pada waktu yang cukup berdekatan, yaitu pada tahun 1922. Lalu Hari Perempuan Sedunia pertama kali mulai dirayakan secara resmi oleh pemerintah Tiongkok dengan libur setengah hari bagi para pekerja perempuan pada 8 Maret 1949.

Hari perayaan ini terus menyebar di berbagai belahan dunia dan memicu pergerakan feminisme gelombang baru. Hingga pada tahun 1975 Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB) akhirnya ikut merayakan Hari Perempuan Sedunia sehingga tahun itu ditetapkan sebagai "Tahun Internasional Perempuan". Dan, pada tahun 1977, PBB menyusul untuk menetapkan tanggal 8 Maret sebagai Hari Perempuan Internasional.

Sampai dengan hari ini perayaan Hari Perempuan Sedunia masih terus dirayakan di banyak negara di seluruh dunia.

(*)

Editor : Siti Nur Qasanah
#hari perempuan sedunia #8 maret #perempuan