JP Bogor - Kebun Raya Bogor mungkin menjadi hal pertama yang terlintas saat berbicara tentang Kota Bogor. Kebun Raya Bogor juga merupakan salah satu destinasi utama bagi para wisatawan yang berkunjung di Kota Hujan ini.
Pada mulanya, kebun ini hanya akan digunakan sebagai sebuah kebun percobaan bagi tanaman perkebunan yang nantinya akan diperkenalkan di Hindia Belanda. Namun pada perkembangannya pendirian Kebun Raya Bogor bisa dikatakan mengawali perkembangan ilmu pengetahuan di Indonesia terutama ilmu botani.
Terletak di Jl. Ir. H. Juanda No.13, Kota Bogor, Jawa Barat. Kebun Raya Bogor merupakan salah satu kebun botani yang ada di Indonesia yang didirikan pada tahun 1817. Luas dari Kebun Raya Bogor sekitar 87 hektare.
Kebun Raya Bogor juga akhirnya merupakan salah satu kebun raya tertua yang ada di daerah Asia Tenggara. Namun, mungkin tidak banyak orang yang mengenal siapa sebenarnya yang merupakan pendiri awal Kebun Raya Bogor.
Dia adalah seorang ahli botani Jerman yang bernama Caspar Georg atau yang memiliki nama lengkap Caspar Georg Karl Reinwardt. Ia lahir pada 5 Juni 1773 di sebuah kota yang bernama Lüttringhausen.
Di masa remajanya, Caspar memutuskan untuk berkuliah dan mengambil jurusan Kedokteran dan Ilmu Botani. Yang lebih mengejutkan lagi, di usianya yang baru menginjak 27 tahun, ia telah berhasil menjadi seorang profesor dalam bidang Sejarah Ilmu Alam di Universitas Harderwijk.
Baca Juga: Mengenal Totopong, Ikat Kepala Khas Sunda yang Unik dan Punya Filosofi
Pada tahun 1803, Caspar terpilih menjadi Rektor di Universitas Harderwijk dan menghabiskan waktu kariernya dalam mengupayakan mendirikan sebuah Kebun Botanik dan Zoologis yang berada di Belanda saat itu.
Pada tahun 1815, ia diangkat menjadi Direktur untuk Pertanian, Pendidikan dan Ilmu Pengetahuan di Jawa, serta pada tahun 1816 resmi mengambil alih jabatan ini.
Saat itu, Caspar melakukan reformasi sistem pendidikan pada umumnya dan kedokteran. Ia juga memulai sebuah eksperimen dalam bidang botanik yang nantinya akan mendirikan Kebun Raya di Buitenzorg untuk mengumpulkan dan mempelajari semua tanaman yang ada di Nusantara.
Pada akhirnya, Prof. Caspar Georg Karl Reinwardt, yang menjadi Direktur Pertanian, Seni, dan Pendidikan Belanda untuk Pulau Jawa, melakukan penelitian terhadap berbagai macam tanaman serta eksplorasi flora dan masalah pertanian, di sebuah kebun botani di Buitenzorg.
Caspar mengusulkan kebun botani tersebut sebagai lahan pengumpulan tanaman dan benih dari berbagai daerah di Nusantara, yang kemudian disetujui oleh Baron van der Capellen, yang merupakan Komisaris Jenderal Hindia Belanda.
Hingga akhirnya, pada 18 Mei 1817, sebuah kebun botani di Bogor resmi didirikan dengan nama "s Lands Plantentuin te Buitenzorg."
Tahun 1823, Caspar memutuskan untuk kembali ke Belanda dan menghabiskan waktunya untuk mengajar ilmu tumbuh-tumbuhan di Universitas Leiden. Hingga pada akhirnya ia tutup usia pada tahun 1854.
Namanya juga diabadikan dalam jurnal botani Reinwardtia (ISSN 0034-365X) genus Reinwardtia familia Linaceae, yang merupakan suatu jenis kantong semar sebagai penghormatan atas Casper. Di Belanda, juga terdapat museum yang menggunakan namanya.
Editor : Candra Mega Sari