JP Bogor - Masyarakat Tionghoa di seluruh dunia akan merayakan Imlek pada tanggal 29 Januari mendatang. Tahun Baru Imlek biasanya dirayakan dengan meriah dan terdapat beberapa tradisi khusus menjelang hari raya.
Merujuk pada jurnal Altasia di laman journal.uib.ac.id, Imlek berasal dari bahasa Tiongkok Chung Ciea yang berarti tahun baru musim semi. Perayaan Imlek juga identik dengan ucapan 'Gong Xi Fa Cai' yang sering disampaikan kepada siapapun yang ikut serta merayakannya. Ungkapan ini memiliki arti selamat berbahagia dan semoga banyak rezeki.
Pada perayaan hari raya tidak lengkap rasanya jika tidak ada makanan khas untuk memeriahkannya. Salah satu makanan khas dan jarang ditemukan di perayaan keagamaan lain adalah kue keranjang (Nian Gao).
Pada Tahun Baru Imlek, tradisi masyarakat Tionghoa adalah menyantap kue keranjang terlebih dahulu sebelum memakan nasi. Hal ini dipercaya akan membawa keberuntungan dalam pekerjaan di sepanjang tahun.
Menjelang perayaan Imlek, kue keranjang sudah bisa ditemui di berbagai tempat seperti swalayan, pasar, toko kue, hingga di e-commerce. Kue berwarna coklat dengan tekstur yang lengket ini ternyata memiliki kisah legenda yang menarik di balik penamaannya.
Baca Juga: 20 Kata-Kata Ucapan Selamat Tahun Baru Imlek Bahasa Mandarin, Inggris, Indonesia
Menurut cerita rakyat dahulu di Tiongkok terdapat seekor raksasa yang menghuni sebuah gunung (Nian). Ketika merasa lapar, raksasa itu sering turun ke desa untuk mencari mangsa. Pada suatu hari, seorang penduduk yang bernama Gao, membuat kue dari ketan dan gula, ia kemudian meletakkannya di depan pintu rumah.
Ketika hendak mencari mangsa, raksasa tergiur oleh aroma manis kue itu dan memakannya hingga kenyang dan tidak jadi mengganggu manusia. Sejak saat itu, penduduk selalu membuat kue Nian Gao di setiap musim dingin untuk menjaga keamanan desa.
Sedangkan di Indonesia kue Nian Gao disebut sebagai kue keranjang karena pada masa lalu, kue ini dicetak menggunakan wadah kecil yang mirip dengan keranjang. Akhirnya, sampai saat ini orang Indonesia terus menyebutnya sebagai kue keranjang.
Selain sejarah, kue keranjang juga memiliki makna filosofis mendalam. Bahan dasarnya yang terbuat dari tepung ketan yang lengket, melambangkan persaudaraan yang erat. Rasanya yang manis menyimbolkan harapan hidup yang dipenuhi dengan kegembiraan. Sedangkan bentuk kue keranjang yang bulat menggambarkan kekeluargaan yang tidak pernah terputus, seperti tradisi berkumpul keluarga akan saat Imlek untuk menjaga keharmonisan dan kerukunan.
Tekstur kenyal dalam kue keranjang melambangkan semangat pantang menyerah untuk menghadapi hidup. Selain itu, kue ini juga memiliki daya tahan simpan yang lama sehingga melambangkan kesetiaan.
Kue keranjang dapat dinikmati dengan berbagai cara seperti dimakan langsung, digoreng, dikukus, sebagai campuran dessert, ataupun dibiarkan sampai mengeras hingga menjadikan rasanya semakin manis. Meski terdapat jamur, anda cukup membersihkannya sebelum dimakan. Tradisi memakan kue keranjang merupakan suatu simbol perayaan yang penuh makna di Hari Imlek.
Editor : Candra Mega Sari