JP Bogor – Tanah Sunda memiliki warisan budaya dan kearifan lokal yang mengakar kuat pada masyarakatnya. Salah satunya adalah permainan tradisional yang biasa dimainkan oleh anak-anak.
Permainan tradisional mengandung nilai-nilai kearifan lokal dan budi pekerti luhur yang menjadi bagian penting dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Sunda. Seperti kerja sama, kejujuran, dan semangat kebersamaan.
Selain itu, permainan-permainan ini dimainkan tidak hanya untuk menjadi sebuah hiburan, melainkan menjadi sarana untuk mempererat hubungan sosial antarwarga.
Dilansir dari laman Disparbud Jabar dan Rinso, Berikut ini 5 permainan tradisional khas Sunda dan cara memainkannya.
- Cingciripit
Cingciripit merupakan salah satu permainan tradisional yang sangat sederhana dan bisa dimainkan oleh semua umur. Mirip seperti hompimpa alaium gambreng, cingciripit dimainkan sebelum memainkan permainan utama yang ingin dimainkan.
Permainan ini bertujuan untuk menentukan siapa pemain yang akan menjadi kucing atau dalam Bahasa Sunda disebut emeng. Permainan diawali dengan para pemain berkumpul membentuk sebuah lingkaran.
Selanjutnya, salah satu pemain akan membuka telapak tangannya sebagai tempat pemain lainnya menaruh satu jari telunjuk di atasnya. Setelah itu, seluruh pemain akan menyanyikan lagu Cingciripit.
Ketika lagu hampir selesai, semua pemain harus bersiap untuk mengangkat telunjuk mereka. Pemain yang terlambat dalam mengangkat telunjuk akan tertangkap oleh telapak tangan yang tertutup. Kemudian, pemain tersebut dinyatakan kalah dan harus menjadi "kucing" dalam permainan.
- Oray-orayan
Oray-orayan merupakan sebuah permainan tradisional yang memadukan unsur gerak dan musik saat dimainkan. Permainan ini memerlukan pemain dalam jumlah yang banyak. Dua pemain bertugas menjadi gerbang yang saling berpegangan tangan dengan posisi berhadap-hadapan.
Masing-masing gerbang berperan sebagai sebagai bulan dan bintang yang posisinya dirahasiakan. Sementara, sisa pemain lainnya akan berbaris panjang dan harus melewati gerbang sambill menyanyikan lagu oray-orayan.
Ketika lagu hampir selesai, dua pemain yang bertugas sebagai gerbang akan menurunkan tangan untuk menangkap salah satu pemain dalam barisan.
Kemudian, pemain yang tertangkap tadi akan diminta memilih bulan atau bintang. Jika sudah memilih, pemain tersebut akan berbaris di belakang pilihannya.
Ketika seluruh barisan pemain sudah habis, kedua tim, yakni kubu Bulan dan Bintang, akan saling adu kekuatan. Mereka berhadapan dan menarik tangan satu sama lain, mirip dengan permainan tarik tambang.
- Gatrik
Di daerah lain, permainan ini punya beragam nama. Mulai tak kadal, patil lele, ataupun benthik. Gatrik membutuhkan jumlah pemain yang cukup banyak, karena dimainkan secara berkelompok dengan menggunakan dua batang bambu sebagai alat mainnya.
Sebelum memulai permainan, para pemain harus dibagi menjadi dua kelompok. Setiap kelompok memilki peran yang berbeda. Kelompok satu berperan melempar bambu, sedangkan kelompok dua berperan menangkap bambu. Jika bambu berhasil ditangkap oleh lawan main, itu artinya pemain bisa bertukar posisi.
Selain seru, Gatrik juga menjadi permainan yang bisa melatih ketangkasan, kelincahan, dan kecepatan. Pemain yang memukul bambu harus berhati-hati agar pukulannya menghasilkan lemparan yang kuat dan cepat.
Sementara itu, tim penjaga dituntut untuk selalu waspada dan sigap agar terhindar dari cedera akibat lemparan bambu yang meluncur.
- Perepet jengkol
Perepet jengkol menjadi salah satu permainan tradisional yang cukup populer di kalangan anak-anak pada zamannya. Permainan ini biasanya dimainkan oleh minimal tiga orang, namun permainan ini akan lebih seru jika dimainkan oleh banyak peserta.
Cara bermainnya cukup sederhana. Para pemain berdiri membelakangi satu sama lain, lalu saling merangkul atau berpegangan tangan. Mereka kemudian melompat sambil berputar ke kiri sambil menyanyikan lagu perepet jengkol.
Ketangkasan dan keseimbangan diuji saat para pemain harus bertahan mengangkat sebelah kaki tanpa terjatuh atau tercerai berai. Pemain yang mampu bertahan paling lama menjadi pemenangnya.
- Sorodot gaplok
Permainan tradisional sorodot gaplok berasal dari bahasa Sunda, di mana “sorodot” berarti meluncur, dan “gaplok” berarti tamparan. Permainan ini biasanya dimainkan oleh empat orang atau lebih.
Cara bermainnya cukup sederhana. Setiap pemain memegang sebuah batu, lalu tiga garis dibuat sebagai area permainan.
Pada giliran pertama, pemain berdiri di garis awal dan melemparkan batu mereka ke arah sasaran, yaitu batu milik kelompok lawan. Jika batu berhasil mengenai target, pemain berpindah ke garis tengah.
Di sini, mereka menempatkan batu di atas punggung kaki dan melemparnya lagi ke arah batu lawan, dengan ketentuan hanya diperbolehkan melangkah dua kali. Jika seluruh pemain dalam satu tim berhasil melewati semua garis, tim tersebut dinyatakan menang.
Selain menyenangkan, permainan sorodot gaplok diyakini dapat melatih keterampilan kepemimpinan, kerja sama tim, serta meningkatkan konsentrasi pemain.
Editor : Bayu Putra