Teras Bogor Viralpedia Wisata dan Kuliner Lifestyle

Mengenang Pramoedya Ananta Toer: Pena Sastra yang Tak Pernah Luntur, Suara Kritis yang Mendunia

Abdul Hamid Dhaifullah • Sabtu, 17 Mei 2025 | 20:00 WIB

Sosok Pramoedya Ananta Toer (Dok. Pinterest)
Sosok Pramoedya Ananta Toer (Dok. Pinterest)
JP Bogor – Nama Pramoedya Ananta Toer terus digaun-gaungkan sampai dengan hari ini. Seratus tahun setelah kelahirannya, Pram, demikian ia akrab disapa, tetap menjadi salah satu suara paling lantang yang pernah dimiliki negeri ini. Melalui kata-kata, ia menolak tunduk. Melalui cerita, ia menghidupkan sejarah. Melalui pena, ia melawan kekuasaan yang membungkam.

Lahir di Blora, Jawa Tengah, pada 6 Februari 1925, Pram kecil tumbuh di tengah keluarga yang menghargai pendidikan dan literasi. Ayahnya seorang guru, ibunya penjual nasi. Dari tangan dan pikirannya kemudian lahir lebih dari 50 karya, diterjemahkan ke dalam lebih dari 40 bahasa dunia. Namun jalan kepenulisan Pram bukan jalan yang mulus, ia adalah jalan panjang penuh luka, pengasingan, dan larangan.

Pramoedya bukan sekadar penulis, ia adalah tahanan hati nurani yang selama hidupnya mengalami tujuh kali pemenjaraan oleh berbagai rezim. Tuduhan makar, afiliasi politik, bahkan sekadar menulis, menjadi alasan untuk mengekang kebebasannya. Namun Pram membuktikan bahwa tubuhnya bisa dipenjara, tapi tidak pikirannya.

Di pengasingannya yang paling terkenal di Pulau Buru, ia menulis karya yang menjadi mahakarya sampai saat ini, Tetralogi Pulau Buru (Bumi ManusiaAnak Semua BangsaJejak Langkah, dan Rumah Kaca). Novel-novel ini bukan hanya roman sejarah, melainkan testamen intelektual tentang identitas, perlawanan, dan harga diri bangsa.

Dalam novelnya Gadis Pantai, Pram menulis, "Setidak-tidaknya kau melawan." Kalimat ini bukan sekadar fiksi, melainkan sikap hidupnya.

Selama Orde Baru, buku-buku Pram dilarang. Ia dianggap subversif dan mengancam ideologi negara. Namun dunia justru melihatnya sebagai simbol keberanian. Amnesty International mengangkatnya sebagai simbol perjuangan kebebasan berekspresi. Tekanan internasional pun mendorong pemerintah mengizinkan Pram kembali menulis sejak 1973.

Meski mengalami pengasingan dan pembungkaman, Pram tidak pernah berhenti berkarya. Nyanyi Sunyi Seorang Bisu, memoar dari sepuluh tahun di Pulau Buru, menjadi kesaksian bagaimana manusia bisa tetap utuh meski dijauhkan dari dunia.

Hingga akhirnya Pramoedya wafat pada 30 April 2006. Meski telah pergi, gagasannya tetap hidup. Ia bukan hanya pengarang besar, tetapi juga penjaga ingatan kolektif bangsa. Melalui sastra, ia membongkar luka sejarah yang coba disembunyikan. Melalui fiksi, ia berbicara tentang realitas yang paling nyata tentang diskriminasi, kolonialisme, penindasan, dan kemerdekaan berpikir.

Warisan Pram hari ini menjadi kompas moral dan intelektual. Dalam dunia yang terus berubah, Pram mengajarkan satu hal, berpikir bebas dan menulis adalah bentuk perlawanan paling murni.

Editor : Candra Mega Sari
#novel #penulis #pramoedya ananta toer