Teras Bogor Viralpedia Wisata dan Kuliner Lifestyle

Lewat Layar Lebar: Warisan Usmar Ismail, Sang Bapak Film Nasional

Abdul Hamid Dhaifullah • Rabu, 14 Mei 2025 | 13:00 WIB

Usmar Ismail (Dok. Pinterest)
Usmar Ismail (Dok. Pinterest)
JP Bogor - Setiap tanggal 30 Maret, dunia perfilman Indonesia merayakan Hari Film Nasional. Namun, di balik tanggal bersejarah itu, berdirilah sosok visioner yang namanya nyaris tak tergantikan, Usmar Ismail. Dialah sutradara, sastrawan, wartawan, dan pejuang, yang bukan hanya menciptakan film, tetapi juga merumuskan apa makna "film nasional" bagi Indonesia merdeka.

Lahir di Bukittinggi pada 20 Maret 1921, Usmar bukan sekadar pengisah kisah. Ia adalah pendobrak. Ketika dunia seni peran Indonesia masih bergantung pada teater tradisional dan film-film asing, Usmar mendirikan kelompok sandiwara Maya pada 1943. Bersama nama-nama besar seperti El Hakim dan Rosihan Anwar, ia memperkenalkan teknik teater Barat sebagai cikal bakal teater modern Indonesia.

Namun, teater hanyalah langkah awal. Usmar melihat film sebagai medium yang lebih luas dan berdampak. Pada 30 Maret 1950, ia mendirikan Perusahaan Film Nasional Indonesia (Perfini) dan memulai pengambilan gambar film Darah dan Doa. Film ini bukan hanya karya seni. Ia adalah deklarasi bahwa Indonesia mampu membuat filmnya sendiri, dengan cerita, aktor, dan tim produksi dari anak bangsa. Tanggal ini pun kini diperingati sebagai tonggak sejarah, Hari Film Nasional.

Film-film garapan Usmar Ismail seperti Lewat Djam MalamTiga DaraPedjuang, dan Enam Djam di Djogja, tidak hanya mewarnai bioskop-bioskop pada masanya, tapi juga meninggalkan jejak budaya yang dalam. Lewat Djam Malam bahkan direstorasi oleh proyek internasional Criterion Collection berkat dukungan sineas legendaris Martin Scorsese.

Kisah hidup Usmar adalah kisah tentang idealisme yang diuji oleh zaman. Di tengah gempuran film impor, ketegangan politik, dan tekanan ekonomi, Usmar tetap berkarya. Ia mendirikan Festival Film Indonesia, menyuarakan pentingnya film sebagai alat perjuangan budaya, hingga mengembuskan napas terakhirnya pada 2 Januari 1971, dalam usia yang belum genap 50 tahun.

Pada 2021, Presiden Joko Widodo menetapkan Usmar Ismail sebagai Pahlawan Nasional. Sebuah penghargaan yang datang terlambat, tapi layak. Karena sesungguhnya, Usmar telah lama menjadi pahlawan di layar dan di balik layar.

Kini, namanya diabadikan dalam Pusat Perfilman Usmar Ismail di Jakarta. Namun, warisan sejatinya tetap hidup di setiap karya sineas muda dan setiap layar yang menyala.

Editor : Candra Mega Sari
#hari film nasional #perfilman indonesia #usmar ismail