Namun, jauh sebelum posenya diabadikan dalam bentuk patung megah, Siddhartha Gautama menjalani kehidupan yang tak kalah megah di istana. Sebagai putra dari penguasa klan Shakya, masa kecil Siddhartha dipenuhi kemewahan dan perlindungan ketat dari segala bentuk penderitaan dunia. Ramalan yang mengatakan ia akan menjadi raja besar atau pemimpin spiritual membuat ayahnya berusaha keras menuntunnya ke arah pertama.
Hingga suatu hari, dunia di luar tembok istana memanggilnya. Dalam perjalanan singkat yang kemudian dikenal sebagai pertemuan dengan "Empat Pertanda", Siddhartha melihat seorang lelaki tua, seorang yang sakit, mayat, dan seorang pertapa. Di sanalah, kesadarannya akan sifat dunia yang fana mulai tumbuh. Bahwa semua orang akan menua, menderita, dan mati, termasuk dirinya. Bahwa hidup yang nyaman pun tak bisa menolak penderitaan.
Perjalanan Siddhartha meninggalkan istana bukanlah pelarian, melainkan pencarian. Ia meninggalkan istri dan anaknya, melepaskan gelar dan kekayaan, dan memulai hidup sebagai pertapa. Dalam pengembaraan spiritual selama bertahun-tahun, ia mencoba berbagai ajaran, meditasi, bahkan hidup ekstrem yang nyaris merenggut nyawanya.
Setelah melepaskan praktik penyiksaan diri dan menerima semangkuk nasi dari seorang wanita sederhana, Siddhartha menemukan titik balik. Ia menyadari bahwa kebenaran tidak terletak di dalam kemewahan, tidak pula dalam penderitaan jasmani, melainkan dalam jalan tengah.
Di bawah pohon Bodhi di Bodh Gaya, India, Siddhartha duduk dan berikrar tak akan bangkit sebelum menemukan jawaban atas penderitaan manusia. Setelah melewati malam penuh meditasi dan gangguan dari Mara, sang dewa kejahatan, akhirnya Siddhartha mencapai pencerahan sempurna. Ia menjadi Buddha, berarti "yang tercerahkan", dan ajarannya kemudian dikenal sebagai agama Buddha.
Buddha kemudian mengajarkan tentang "Empat Kebenaran Mulia" dan "Jalan Berunsur Delapan", sebuah panduan untuk membebaskan diri dari penderitaan. Ajaran ini menyebar dari India ke seluruh dunia, membawa pesan bahwa penderitaan dapat dipahami dan dilampaui.
Kini, lebih dari dua milenium sejak dirinya mencapai pencerahan, sosok Siddhartha Gautama tetap hidup dalam ingatan kolektif umat manusia. Patung Buddha Tidur di Mojokerto bukan sekadar karya seni religius, tapi juga simbol dari perjalanan batin seseorang yang berani mempertanyakan, melepaskan, dan menemukan makna hidup sejati.
Editor : Candra Mega Sari