JP Bogor — Di balik lampu teater dan pekikan puisi nyaringnya, suara Wiji Thukul tetap bergema meski tubuhnya telah lama tak terlihat. Ia bukan sekadar penyair. Ia adalah simbol, perlawanan yang lahir dari lorong-lorong kampung miskin Solo, menjelma jadi peluru kata yang membidik tirani.
Dilansir dari badanbahasa.kemendikdasmen.go.id, rri.co.id dan dapobas.kemdikbud.go.id, Wiji Thukul yang Lahir dengan nama Widji Widodo pada 26 Agustus 1963 di Kampung Sorogenen, Solo, tumbuh dalam kemiskinan. Ayahnya tukang becak, ibunya buruh cuci. Tapi dari rumah kecil itu, mekar sebuah kesadaran besar bahwa ketidakadilan bisa dilawan, bahkan dengan puisi. Nama "Thukul". yang berarti "tumbuh", bukan hanya pemberian. Ia adalah takdir.
Sejak kecil, ia sudah mengenal kata-kata. Menulis puisi sejak SD, ikut teater di SMP, dan mengamen puisi bersama Teater Jagat keliling kampung hingga kota. Bukan di gedung megah ia tampil, tapi di jalanan, pasar, dan kampung buruh. Puisinya tidak elitis. Ia bukan penyair menara gading melainkan penyair jalanan, penyair perlawanan.
Puisi-puisinya menyentil dan menyengat. "Hanya ada satu kata: Lawan!" menjadi mantra yang terus dihidupkan aktivis hingga hari ini. Kumpulan puisinya seperti Puisi Pelo, Darman dan Lain-Lain, hingga Aku Ingin Jadi Peluru, bukan sekadar karya sastra, tapi manifesto kesadaran humanistik.
Ia percaya, penyair sejati harus bebas mencari kebenaran dan aktif mempertanyakannya kembali. Maka, ia pun belajar tak hanya dari buku, tapi dari gelagat kampung, aroma pabrik, dan wajah-wajah letih para buruh.
Tak heran, puisinya lebih banyak disalin, difotokopi, dibacakan dalam bisik-bisik atau teriakan di tengah demonstrasi. Ia membaca puisinya di acara budaya Belanda dan Jerman, tapi juga di atas panggung kampung yang berlantaikan tanah.
Dalam sajak legendaris "Peringatan", Wiji Thukul menggambarkan suasana kritis bangsa. Jika rakyat pergi ketika penguasa pidato, kita harus hati-hati
Baris demi barisnya menjadi cermin masyarakat yang mulai jenuh pada kekuasaan yang tuli. Di tengah ketimpangan sosial, Wiji Thukul tak hanya menjadi saksi, tapi juga pelaku perlawanan. Ia bergabung dalam aksi warga melawan pencemaran lingkungan. Ia berdiri bersama rakyat kecil, dan memilih suara mereka sebagai isi puisinya.
Pada 27 Juli 1996, setelah tragedi penyerbuan kantor PDI pro-Megawati, Wiji Thukul menghilang. Sejak itu, tak ada lagi kabar. Tapi lenyapnya tubuh bukanlah lenyapnya suara. Puisinya justru makin nyaring. Dalam sejarah, ia berdiri sejajar dengan tokoh-tokoh perjuangan hak asasi manusia, seperti Munir. Keduanya menjadi simbol bahwa kebenaran bisa dibungkam, tapi tidak bisa dikubur.
Kini, dalam diskursus sastra yang kian sibuk dengan estetika dan popularitas, suara-suara Wiji Thukul kembali menemukan gaungnya. Dalam orasi mahasiswa, mural jalanan, hingga unggahan media sosial, puisinya hidup dalam tubuh generasi baru yang tak pernah benar-benar mengenalnya secara langsung. Tapi mereka mengenal gagasannya, melawan kesewenang-wenangan, mempertahankan kemanusiaan. (*)
Editor : Siti Nur Qasanah