Dahulu kala, akibat konflik keluarga di Kerajaan Padjajaran, banyak penduduk kampung, termasuk dari Sindang Barang dan sebagian masyarakat Padjajaran, memilih untuk pindah.
Mereka kemudian mendirikan perkampungan baru di dekat Gunung Salak, tepatnya di Pasir Eurih, yang kini dikenal sebagai Desa atau Kampung Sindang Barang.
Nama Sindang Barang sendiri memiliki makna filosofis. 'Kampung' berarti tempat tinggal dan berkumpul, 'Sindang' bermakna berhenti, dan 'Barang' berarti dunia atau hal material. Jadi, Sindang Barang dapat diartikan sebagai tempat di mana mereka meninggalkan segala urusan duniawi.
Kampung Sindang Barang sejak ada sejak abad ke-12. Meskipun zaman terus berkembang, kampung ini tetap mempertahankan nilai-nilai budaya lokal dari tradisi leluhur masyarakat setempat. Kampung ini juga berfungsi sebagai pusat budaya untuk pengetahuan, pembelajaran, dan penghormatan kepada para leluhur.
Menurut informasi dari website Atourin.com, biaya masuk ke kampung ini sangat terjangkau, yaitu Rp 25.000 pada hari kerja dan Rp 30.000 pada akhir pekan. Namun, penting untuk selalu menghormati masyarakat setempat dan adat istiadat yang telah lama ada di sana.
Editor : Candra Mega Sari