Teras Bogor Viralpedia Wisata dan Kuliner Lifestyle

Suka Jaga Jarak dan Diam Seribu Bahasa? Kenali 5 Tanda Avoidant Attachment dalam Hubungan Asmara

Ajilan Fauza Fathayanie • Rabu, 9 Juli 2025 | 11:25 WIB
Ilustrasi pasangan yang sedang bermasalah dalam hubungan asmara. (Freepik)
Ilustrasi pasangan yang sedang bermasalah dalam hubungan asmara. (Freepik)

JawaPos.com – Dalam psikologi hubungan, dikenal istilah avoidant attachment atau keterikatan yang cenderung menghindar. Ini merupakan pola relasi di mana seseorang kerap menjaga jarak secara emosional, merasa tidak nyaman dengan kedekatan, dan sulit terbuka secara mendalam.

Biasanya, individu dengan kecenderungan ini memiliki pengalaman masa lalu yang mengajarkan mereka bahwa kedekatan bisa melukai. Akibatnya, mereka tumbuh menjadi sosok yang tampak mandiri dan kuat dari luar, namun sebenarnya sedang membangun tembok perlindungan dari potensi sakit hati.

Sikap ini kerap muncul dalam hubungan romantis dan sering kali tidak disadari. Pola-pola ini justru menjadi penghalang untuk menjalin hubungan yang tulus dan saling terhubung secara emosional.

Berdasarkan ulasan dari situs Your Tango, ada beberapa tanda umum yang biasa dimiliki oleh seseorang dengan kecenderungan avoidant dalam hubungan asmara. Simak baik-baik dan lihat apakah kamu atau pasanganmu pernah menunjukkan ciri-ciri seperti ini.

1. Menjaga Jarak Emosional dan Sulit Terbuka

Salah satu tanda paling kentara dari pola avoidant adalah kesulitan untuk membuka diri secara emosional. Mereka enggan menunjukkan perasaan atau membicarakan hal-hal yang bersifat personal dan mendalam.

Bukan karena mereka tak peduli, tapi lebih karena rasa takut terluka. Mereka berpikir, "Kalau tidak terlalu dekat, maka rasa sakit juga tidak akan terlalu besar saat ditinggalkan". Karena itu, mereka memilih menciptakan jarak emosional, meskipun secara fisik tetap ada dalam hubungan.

Pasangan mereka pun kerap merasa kesulitan membangun keintiman emosional, karena setiap percakapan mendalam seperti berbicara dengan tembok—ada orangnya, tapi tanpa kejelasan perasaan atau empati yang nyata.

2. Sering Mengeluarkan Ancaman Pergi Saat Bertengkar

Individu dengan gaya avoidant sangat sensitif terhadap konflik, terutama konflik yang menyentuh sisi rentan mereka. Dalam situasi pertengkaran, mereka cenderung langsung mengancam akan mengakhiri hubungan.

Kalimat seperti “Aku capek” atau “Mungkin kita lebih baik putus saja” mudah terucap, bahkan saat masalahnya sebenarnya bisa dibicarakan. Ini adalah cara mereka menghindar dari luka batin yang lebih dalam.

Namun, jika hal ini menjadi kebiasaan, hubungan akan terasa tidak aman dan rapuh. Pasangan merasa setiap pertengkaran bisa menjadi akhir, meski sebenarnya masih bisa diperbaiki dengan komunikasi.

Baca Juga: Kopi Bukan Lagi yang Utama, Ini 8 Alasan Mengapa Matcha Kini Jadi Favorit

3. Komunikasi Tidak Langsung dan Sering Pasif-Agresif

Dalam komunikasi yang sehat, kejujuran adalah kunci. Namun, orang dengan kecenderungan avoidant merasa cemas jika harus bicara secara terbuka soal perasaan mereka.

Alih-alih jujur, mereka lebih sering menyampaikan perasaan lewat sindiran, diam-diam menciptakan jarak, atau berkata “nggak apa-apa” saat sebenarnya sedang kesal.

Sikap pasif-agresif seperti ini membuat pasangan merasa bingung dan frustasi. Hubungan menjadi tidak transparan, sulit dimengerti, dan penuh asumsi karena tidak ada kejelasan dari kedua belah pihak.

4. Cenderung Meremehkan atau Merendahkan Pasangan

Karena merasa tak nyaman dengan kedekatan emosional, orang dengan pola avoidant kadang menunjukkan sikap meremehkan pasangan. Mereka bisa bersikap seolah-olah paling benar, menyalahkan, atau menolak melihat sudut pandang pasangannya.

Ini bukan semata-mata karena ego, tapi karena posisi “dominan” secara emosional membuat mereka merasa lebih aman. Dengan menjaga jarak lewat superioritas, mereka bisa menghindari perasaan rentan.

Sayangnya, ini justru membuat pasangan merasa tidak dihargai. Hubungan yang seharusnya saling setara malah berubah menjadi ruang kompetisi atau dominasi.

5. Memilih Diam dan Menghindari Konfrontasi

Saat menghadapi konflik, alih-alih membicarakan dan menyelesaikannya, orang dengan kecenderungan avoidant lebih memilih untuk menarik diri. Mereka menghindar, berhenti bicara, atau memberi perlakuan diam (silent treatment).

Ini adalah bentuk pertahanan diri. Dengan tidak terlibat dalam percakapan emosional, mereka merasa bisa menghindari rasa sakit. Namun, bagi pasangan, ini terasa seperti ditinggalkan secara emosional—bingung, sendirian, dan tanpa kejelasan.

Tindakan ini justru menciptakan tembok dalam hubungan. Komunikasi jadi terputus, dan keintiman sulit terbangun karena tidak ada ruang untuk saling memahami. (*)

Editor : Siti Nur Qasanah
#avoidant attachment #psikologi #sikap #hubungan