Teras Bogor Viralpedia Wisata dan Kuliner Lifestyle

Suara Anak Kecil di Dalam Diri, Memahami Inner Child dan Luka yang Tak Terlihat

Abdul Hamid Dhaifullah • Rabu, 18 Juni 2025 | 14:07 WIB
Ilustrasi penggambaran sisi hidup dewasa dengan anak di dalam dirinya. (pinterest.com)
Ilustrasi penggambaran sisi hidup dewasa dengan anak di dalam dirinya. (pinterest.com)

JP Bogor – Pernahkah kamu merasa marah secara tiba-tiba, takut ditinggalkan, atau terlalu keras menyalahkan diri sendiri, tanpa tahu sebabnya? Bisa jadi itu bukan hanya sekadar emosi sesaat. Bisa jadi, itu adalah jeritan halus dari anak kecil di dalam diri kamu—inner child yang terluka dan belum sempat dipeluk.

Dalam dunia psikologi, istilah inner child digunakan untuk menggambarkan bagian dari diri seseorang yang terbentuk oleh pengalaman masa kecil, baik yang manis maupun yang menyakitkan. Ketika pengalaman itu menyisakan trauma, maka inner child yang tumbuh pun menjadi bagian yang penuh luka, yang memengaruhi hidup seseorang hingga dewasa.

Tidak semua luka berasal dari peristiwa besar. Inner child bisa terluka hanya karena hal yang tampak sepele bagi orang dewasa. Mulai dari teguran keras, ditinggal saat butuh perhatian, hingga tidak diizinkan mengekspresikan perasaan.

Trauma ini tidak hilang begitu saja. Ia menetap diam-diam, memengaruhi cara seseorang menjalani hidup seperti sulit membuat batasan personal, menjadi people pleaser, perfeksionis, mudah merasa bersalah, bahkan takut menunjukkan siapa dirinya sebenarnya.

Tanda bahwa inner child seseorang terluka sering kali tersembunyi dalam keseharian: kecemasan berlebihan saat menghadapi hal baru, kesulitan menyelesaikan tugas, atau bahkan rasa tidak nyaman saat melihat tubuh sendiri di cermin.

Menyembuhkan inner child bukan proses yang instan. Tapi ia bisa dimulai dengan hal-hal sederhana:

1. Menerima dan Memahami

Mengakui bahwa luka itu ada adalah langkah pertama. Tidak ada jalan menuju penyembuhan tanpa pengakuan. Setiap pengalaman masa kecil layak dihormati dan dipahami.

2. Menulis dan Berkisah

Menulis jurnal bisa menjadi sarana untuk berdialog dengan diri sendiri. Ia membantu memetakan perasaan, mengenali trauma, dan perlahan-lahan memahami akar luka tersebut.

3. Memenuhi Keinginan Anak Kecil dalam Diri

Mungkin dulu kamu ingin menari tapi selalu dimarahi. Atau ingin menangis, tapi dibilang cengeng. Kini, cobalah beri ruang bagi anak kecil itu. Menari. Menangis. Bermain. Menyenangkan diri dengan cara yang dulu tertunda.

Baca Juga: Polri Tambah 90 Unit SPPG, Kapolri Resmikan Fasilitas Baru di Jembrana Bali

4. Pelukan Simbolis

Salah satu teknik populer adalah “Butterfly Hug”, yaitu memeluk diri sendiri dengan menyilangkan tangan di dada sambil mengetuk pelan. Gerakan sederhana ini bisa memberi rasa nyaman dan aman pada inner child-mu.

5. Kembali ke Kenangan Bahagia

Ingatlah satu momen hangat di masa kecil seperti aroma masakan ibu, main hujan bersama teman, atau lagu kesukaan saat kecil. Biarkan kenangan baik itu tumbuh lebih besar dari luka.

Inner child adalah bagian dari diri kita yang akan selalu tinggal. Ia tidak pernah benar-benar pergi, hanya kerap tak terdengar karena ditenggelamkan oleh kesibukan dunia dewasa. Tapi menyembuhkan inner child bukan berarti menolak dewasa, melainkan memberi ruang bagi bagian terdalam dari diri kita untuk tumbuh kembali dengan cinta, pengertian, dan pelukan.

Artikel ini bersifat edukatif dan bukan pengganti diagnosis atau saran medis. Jika kamu memiliki gejala atau pengalaman yang mendalam terkait trauma masa kecil, sebaiknya konsultasikan langsung dengan tenaga professional, ya! (*)

Editor : Siti Nur Qasanah
#menyembuhkan #anak kecil #luka #inner child