JP Bogor – Di tengah gelombang Grunge dari Seattle yang menguasai lanskap musik global awal 1990-an, Inggris melahirkan Britpop yang tak kalah kuat. Lebih dari sekadar genre musik, Britpop menjadi gerakan budaya yang menghidupkan kembali identitas kebangsaan melalui irama gitar ceria, lirik yang membumi, dan gaya yang memadukan masa lalu dengan semangat zaman.
Britpop tumbuh sebagai reaksi terhadap kelamnya musik Grunge. Jika Nirvana dan Alice in Chains berbicara tentang kegelisahan generasi dengan suara berat dan suram, maka Britpop datang membawa melodi cerah dan penuh semangat. Band-band seperti Oasis, Blur, Pulp, dan Suede yang kemudian dikenal sebagai "Big Four" menawarkan narasi baru tentang kehidupan sehari-hari, keunikan warga Inggris, hingga keresahan yang dibalut humor.
Berakar pada warisan British Invasion tahun 1960-an seperti The Kinks dan The Who, glam rock 70-an seperti David Bowie dan T-Rex, serta pop 80-an seperti Duran Duran, musik Britpop tampil segar namun familiar. Band seperti Oasis dan Blur terang-terangan meminjam semangat The Beatles dan Pink Floyd, sementara Pulp dan Suede mengambil warna dari The Smiths, Bowie, hingga Pet Shop Boys.
Namun Britpop bukan hanya tentang musik. Ia adalah simbol. Sebuah bentuk kebanggaan nasional yang tumbuh di tengah era globalisasi. Dalam lirik Parklife milik Blur, dalam keberingasan Live Forever milik Oasis, atau dalam kejenakaan sosial milik Pulp di Common People, Britpop menjadi juru bicara yang lantang bagi generasi muda Inggris.
Tak lengkap rasanya membicarakan Britpop tanpa menyebut rivalitas legendaris antara Oasis dan Blur yang mencapai puncaknya pada 1995. Ketika kedua band merilis single mereka, Roll With It dari Oasis dan Country House dari Blur, di hari yang sama, publik Inggris menyambutnya seperti pertandingan final sepak bola. Hasilnya? Blur menang di tangga lagu, tapi sejarah mencatat rivalitas itu sebagai pemicu utama ledakan Britpop secara global.
Namun kejayaan itu tak bertahan selamanya. Menjelang akhir dekade 1990-an, euforia Britpop mulai meredup. Banyak band yang berevolusi ke arah musik baru, sementara publik bergeser ke tren lain. Meski demikian, warisan Britpop tak pernah benar-benar hilang. Pengaruhnya masih terasa dalam karya band-band Inggris masa kini, dari Arctic Monkeys hingga The 1975. (*)
Editor : Siti Nur Qasanah