Teras Bogor Viralpedia Wisata dan Kuliner Lifestyle

Berat Badan Berlebih Tak Hanya dari Makanan, Ini Dia Beberapa Faktor Lainnya!

Ghina Fadiah Rahma • Jumat, 13 Juni 2025 | 22:03 WIB
Ilustrasi kenaikan berat badan. (Annushka  Ahuja/Pexels)
Ilustrasi kenaikan berat badan. (Annushka Ahuja/Pexels)

JP Bogor - Banyak orang mengira bahwa penyebab utama berat badan berlebih adalah makanan. Memang benar, pola makan yang berlebihan dan tidak seimbang dapat memicu kenaikan berat badan. Namun, faktanya tidak sesederhana itu. Ada banyak faktor tersembunyi yang diam-diam mempengaruhi angka di timbanganmu, dan beberapa di antaranya bahkan tak ada hubungannya dengan apa yang kamu makan.

Salah satu faktor penting yang sering diabaikan adalah kurang tidur. Ketika tubuh tidak mendapat waktu istirahat yang cukup, hormon ghrelin (yang memicu rasa lapar) meningkat, sementara hormon leptin (yang memberi sinyal kenyang) menurun. Akibatnya? Kamu merasa lapar terus-menerus, bahkan ketika tubuh sebenarnya tidak butuh makanan.

Stres juga menjadi biang kerok kenaikan berat badan. Saat kamu stres, tubuh memproduksi hormon kortisol yang bisa mendorong nafsu makan, khususnya terhadap makanan tinggi gula dan lemak. Inilah kenapa banyak orang yang mengalami "emotional eating", yaitu makan bukan karena lapar, tapi karena emosi.

Selain itu, kurangnya aktivitas fisik juga memiliki peran besar. Meskipun kamu mengontrol asupan kalori dengan ketat, jika tubuh tidak bergerak cukup, proses pembakaran kalori jadi lambat. Aktivitas fisik bukan hanya soal olahraga berat bisa dengan berjalan kaki, naik tangga, atau berdiri lebih sering pun bisa memberi dampak positif.

Faktor genetik juga tak bisa diabaikan. Beberapa orang memiliki kecenderungan genetik untuk menyimpan lebih banyak lemak atau memiliki metabolisme yang lebih lambat. Ini bukan berarti mereka tidak bisa mengontrol berat badan, tapi prosesnya mungkin lebih menantang dibanding orang lain.

Tak hanya itu, masalah hormon dan kondisi medis tertentu seperti hipotiroidisme, sindrom ovarium polikistik (PCOS), atau resistensi insulin juga bisa menyebabkan berat badan meningkat, bahkan jika pola makanmu sudah dijaga dengan baik. Jika kamu merasa sulit menurunkan berat badan meski sudah berusaha, ada baiknya berkonsultasi dengan tenaga medis.

Penggunaan obat-obatan tertentu juga bisa berpengaruh. Beberapa jenis obat seperti antidepresan, steroid, atau obat diabetes bisa menyebabkan kenaikan berat badan sebagai efek samping. Ini tidak berarti kamu harus berhenti minum obat, tapi penting untuk mengetahui efeknya dan mengatur strategi yang tepat bersama dokter.

Menariknya, lingkungan dan kebiasaan sosial juga punya peran dalam pola berat badan. Misalnya, jika kamu tinggal di lingkungan yang kurang mendukung aktivitas fisik, atau sering makan bersama teman-teman yang doyan ngemil malam, itu bisa mempengaruhi kebiasaan makanmu tanpa sadar.

Faktor usia juga patut dipertimbangkan. Seiring bertambahnya usia, metabolisme tubuh cenderung melambat. Apa yang dulunya bisa dibakar dengan mudah saat usia 20-an, bisa menjadi lemak membandel di usia 30an ke atas. Oleh karena itu, pendekatan terhadap gaya hidup sehat juga perlu disesuaikan dengan fase hidup.

Jangan lupakan juga asupan cairan. Terkadang, rasa haus bisa disalah artikan sebagai rasa lapar. Kurangnya hidrasi bisa membuatmu makan lebih banyak, padahal yang kamu butuhkan sebenarnya hanya segelas air putih.

Berat badan memang bisa dipengaruhi oleh banyak hal. Menyadari bahwa makanan hanyalah satu bagian dari teka-teki ini akan membantumu melihat gambaran besar. Dengan begitu, kamu bisa menyusun strategi yang lebih efektif dan realistis untuk menjaga berat badan ideal.

Ingat, tubuh yang sehat bukan hanya tentang angka di timbangan. Pahami faktor-faktor yang mempengaruhinya, lalu pelan-pelan atur ulang gaya hidupmu. Perubahan kecil yang konsisten jauh lebih berarti daripada usaha besar yang hanya sesaat. Yuk, mulai kenali tubuhmu lebih dalam dan sayangi diri sendiri sepenuhnya! (*)

Editor : Siti Nur Qasanah
#berat badan #faktor #makanan