Melansir dari laman Alodokter.com, hikikomori pertama kali diperkenalkan oleh psikiater Jepang, Tamaki Saito, pada tahun 1998. Kondisi ini umumnya dialami oleh remaja dan dewasa muda, terutama laki-laki, meskipun perempuan dan lansia juga bisa mengalaminya. Mereka yang mengalami hikikomori cenderung menghindari sekolah, pekerjaan, bahkan interaksi sosial dengan keluarga sekalipun.
Penyebab fenomena ini cukup kompleks. Dikutip dari Hellosehat.com, tekanan akademik yang tinggi, perundungan di sekolah, pola asuh orang tua yang terlalu protektif, serta perkembangan teknologi yang memungkinkan seseorang memenuhi kebutuhannya tanpa keluar rumah, menjadi beberapa faktor utama.
Di Jepang, sistem pendidikan yang kompetitif dan ekspektasi tinggi dari keluarga sering kali membuat anak-anak merasa tertekan hingga akhirnya memilih menarik diri dari lingkungan sosial.
Dampak hikikomori tidak bisa dianggap remeh. Secara mental, mereka yang mengalami kondisi ini rentan terhadap stres, depresi, gangguan kecemasan, hingga keinginan untuk mengakhiri hidup. Dari sisi fisik, minimnya aktivitas di luar rumah bisa berujung pada gangguan tidur, penurunan kebugaran, hingga risiko penyakit kardiovaskular.
Meski belum dikategorikan sebagai gangguan mental, hikikomori membutuhkan perhatian khusus. Beberapa metode penanganan yang telah dilakukan di Jepang meliputi terapi psikologis, pendekatan keluarga, hingga komunitas yang membantu mereka kembali beradaptasi dengan dunia luar. Dalam beberapa kasus, obat-obatan tertentu juga diberikan untuk mengatasi gejala yang lebih berat.
Fenomena ini tidak hanya terjadi di Jepang, tetapi juga mulai muncul di berbagai negara, termasuk Indonesia. Dengan semakin maraknya penggunaan teknologi dan tekanan sosial yang tinggi, ada potensi peningkatan jumlah orang yang memilih untuk menarik diri dari lingkungan. Oleh karena itu, penting bagi masyarakat untuk lebih memahami fenomena ini, agar bisa memberikan dukungan yang tepat bagi mereka yang mengalaminya.
Hikikomori bukan sekadar malas atau enggan bersosialisasi, tetapi sebuah kondisi yang membutuhkan perhatian dan solusi. Dunia tidak hanya sebatas layar gawai atau dinding kamar, dan bagi mereka yang terjebak dalam isolasi, bantuan dan pemahaman dari lingkungan sekitar bisa menjadi kunci untuk kembali menemukan kehidupan yang lebih sehat dan bermakna.
Editor : Candra Mega Sari