JP Bogor - ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder) adalah gangguan perkembangan saraf yang umum terjadi, terutama pada anak-anak.
Menurut Hindustan Times pada Selasa (7/1), beberapa gejala ADHD yang paling sering muncul meliputi agresi, hiperaktivitas, impulsivitas, pengulangan kata atau tindakan, linglung, kesulitan berkonsentrasi, pelupa, rentang perhatian yang pendek, kemarahan, kecemasan, dan depresi.
Dr. Praveen Gupta, Direktur Utama dan Kepala Neurologi di Rumah Sakit Fortis, menjelaskan dalam wawancara dengan HT Lifestyle bahwa ADHD sering menjadi penyebab utama buruknya performa akademis anak-anak di sekolah. Sayangnya, kondisi ini kerap tidak terdiagnosis dengan tepat.
"Pasien ADHD cenderung kesulitan memusatkan perhatian. Mereka tidak bisa duduk diam atau fokus pada satu tugas. Kegelisahan mereka menyebabkan peralihan dari satu tugas ke tugas lainnya atau dari satu tempat ke tempat lain, yang berdampak negatif pada proses belajar mereka," ungkap Dr. Gupta.
"Karena kurangnya perhatian dan hiperaktivitas, mereka tidak mampu menerima atau mengolah informasi dengan baik, sehingga sulit mengingat dan mempelajarinya," lanjutnya.
Hal tersebut, kata Dr. Gupta, dapat sangat memengaruhi perkembangan akademis dan skolastik anak-anak tersebut.
Menurut Dr. Gupta, penanganan ADHD umumnya mencakup penggunaan obat-obatan yang dirancang untuk mengurangi hiperaktivitas dan meningkatkan kemampuan fokus serta konsentrasi. Obat-obatan tersebut biasanya berupa stimulan otak yang berfungsi mendukung kinerja otak agar lebih optimal.
Selain itu, Dr. Gupta mengatakan, terapi perilaku dan terapi kognitif menjadi bagian penting dari perawatan. Ia menambahkan bahwa terapi tersebut membantu anak-anak melatih otak mereka agar mampu meningkatkan fokus dan perhatian.
Dukungan dari orang tua dan sekolah juga sangat penting untuk anak dengan ADHD.
"Sangat penting bagi orang tua untuk menyadari dan memahami gejala ADHD sehingga mereka dapat mengikuti terapi perilaku dan memperlakukan anak-anak mereka dengan perhatian khusus, imbuh Dr. Gupta.
(*)
Editor : Siti Nur Qasanah