Teras Bogor Viralpedia Wisata dan Kuliner Lifestyle

Hati-Hati! Diet OMAD Bisa Berbahaya jika Salah Langkah, Simak Tips Amannya di Sini

Ghina Fadiah Rahma • Senin, 9 Juni 2025 | 14:00 WIB
Tips OMAD (Dok. Mysiloam-api.siloamhospitals.com)
Tips OMAD (Dok. Mysiloam-api.siloamhospitals.com)

JawaPos.com - Diet OMAD (One Meal A Day) sedang ramai dibicarakan sebagai cara instan untuk menurunkan berat badan. Konsepnya terdengar sederhana: kamu hanya makan satu kali sehari, dan sisanya adalah waktu puasa. Banyak orang mengklaim sukses menurunkan berat badan dengan metode ini, tapi apakah diet ini benar-benar aman?

Sebagai metode ekstrem dari intermittent fasting, diet OMAD memaksa tubuh untuk bertahan selama sekitar 23 jam tanpa asupan kalori. Dalam waktu satu jam makan, kamu diperbolehkan mengonsumsi semua kebutuhan nutrisi harian. Tantangannya? Tubuh kita mungkin tidak selalu siap menghadapi ritme makan seketat itu.

Bahaya utama dari diet OMAD terletak pada risiko kekurangan nutrisi. Saat hanya makan satu kali, besar kemungkinan kamu tidak mendapatkan cukup vitamin, mineral, serat, dan protein yang dibutuhkan tubuh. Jika dilakukan dalam jangka panjang tanpa perencanaan yang matang, OMAD bisa menyebabkan kelelahan, gangguan hormon, bahkan gangguan pencernaan.

Selain itu, banyak orang yang melakukan OMAD dengan cara yang salah. Mereka menganggap jam makan adalah momen "balas dendam," lalu mengonsumsi makanan tinggi lemak jenuh, gula, atau karbohidrat olahan. Padahal, jenis makanan yang dikonsumsi tetap memegang peranan penting dalam efektivitas dan keamanan diet ini.

Namun, bukan berarti OMAD sepenuhnya berbahaya. Dengan perencanaan yang tepat dan pengawasan ahli gizi atau dokter, diet ini bisa menjadi alternatif bagi mereka yang ingin menerapkan gaya hidup minimalis dalam hal makan. Kuncinya adalah keseimbangan dan mendengarkan sinyal tubuh.

Lalu, bagaimana cara menjalankan diet OMAD dengan aman? Pertama, pilih waktu makan yang paling sesuai dengan ritme harianmu. Banyak orang memilih makan saat sore atau malam hari, ketika aktivitas fisik sudah menurun, dan tubuh bisa fokus mencerna makanan.

Kedua, pastikan satu kali makan terdiri dari makanan yang padat nutrisi. Fokuskan pada protein tanpa lemak (seperti ayam, ikan, tahu, tempe), karbohidrat kompleks (beras merah, quinoa, ubi), serta lemak sehat dari alpukat, kacang-kacangan, dan minyak zaitun. Jangan lupakan sayur dan buah sebagai sumber serat, vitamin, dan antioksidan.

Ketiga, jangan abaikan asupan cairan. Selama berpuasa, pastikan kamu tetap minum air putih dalam jumlah cukup. Hindari minuman manis, berkafein berlebihan, atau minuman berenergi yang bisa memicu dehidrasi atau gangguan lambung.

Keempat, perhatikan respons tubuhmu. Jika kamu merasa pusing, lemas berlebihan, atau susah berkonsentrasi, mungkin tubuhmu belum siap untuk metode OMAD. Tidak semua orang cocok dengan pola makan ini, terutama mereka yang memiliki gangguan metabolisme, tekanan darah rendah, atau sedang hamil dan menyusui.

Kelima, jangan jadikan OMAD sebagai pola jangka panjang tanpa evaluasi. Gunakan sebagai strategi sementara untuk mengatur ulang pola makan, lalu beralihlah ke pola makan seimbang dan berkelanjutan yang bisa kamu nikmati setiap hari.

Jadi, apakah diet OMAD berbahaya? Bisa iya, bisa tidak. Semuanya kembali ke cara kita menjalankannya. Jangan asal ikut tren kenali kebutuhan tubuhmu, konsultasikan ke ahlinya, dan ingat bahwa kesehatan bukan soal instan, tapi tentang konsistensi jangka panjang.

Editor : Candra Mega Sari
#menurunkan berat badan #OMAD #diet #One Meal a Day