Awalnya, para penjajah Belanda di Indonesia ingin membuat pie khas Belanda yang menggunakan blueberry atau stroberi sebagai isian. Namun, karena kedua buah tersebut sulit ditemukan di Indonesia yang beriklim tropis, mereka menggantinya dengan nanas, yang lebih mudah didapat. Dari sinilah lahir pie dengan isian nanas, yang kemudian berkembang menjadi nastar seperti yang kita kenal sekarang.
Pada masa penjajahan, kue nastar biasanya dijadikan bingkisan untuk kaum menengah ke atas Belanda, terutama saat Natal. Masyarakat Indonesia yang sering melihat kebiasaan ini pun mulai mencoba membuat nastar sendiri.
Baca Juga: Aroma Petrikor: Wangi Hujan yang Menenangkan dan Manfaatnya bagi Kesehatan Mental
Jika di Belanda nastar berbentuk pie dengan isian di atasnya, orang Indonesia memodifikasinya menjadi kue kecil berbentuk bulat dengan isian nanas di dalamnya, menjadikannya lebih praktis untuk dikonsumsi. Seiring waktu, nastar pun menjadi kue yang sering dijadikan bingkisan untuk teman dan keluarga saat hari besar, seperti Idulfitri.
Menurut Indonesian Chef Association, pakar pastry ternama Indonesia, Chef Yongki Gunawan, menyebut bahwa nastar sebenarnya termasuk kategori cake, bukan kue kering. Hal ini karena tekstur aslinya yang lembut dan sedikit lembap, berbeda dari kue kering pada umumnya.
Hingga kini, nastar tetap menjadi salah satu kue yang paling mudah ditemukan saat Lebaran. Sejak dahulu, nastar sudah menjadi pelopor dalam deretan kue khas hari raya, seperti putri salju dan kastengel. Kini, nastar hadir dalam berbagai bentuk, seperti bulat, bulan sabit, kotak, bahkan menyerupai buah nanas.
Baca Juga: Defisit APBN hingga Tensi Geopolitik Eropa-AS Jadi Penyebab IHSG Ambruk Lebih Dari 5 Persen
Menariknya, di balik cita rasa manis dan lembutnya, nastar juga memiliki filosofi tersendiri. Dalam budaya Tionghoa, nastar disebut sebagai "ong lai", yang berarti pir emas dan diyakini sebagai simbol kemakmuran serta keberuntungan.
(*)