Teras Bogor Viralpedia Wisata dan Kuliner Lifestyle

Mengenal Degung, Alat Musik Gamelan Tradisional Masyarakat Sunda yang Legendaris

Muhamad Kafien Nibras • Jumat, 11 Oktober 2024 | 18:07 WIB
Alat musik tradisional Degung. (jatinangor.itb.ac.id)
Alat musik tradisional Degung. (jatinangor.itb.ac.id)

JP Bogor – Gamelan merupakan salah satu alat musik tradisional yang berasal dari Indonesia. Gamelan dapat ditemukan di berbagai daerah di Indonesia, termasuk Jawa Barat. Di tanah pasundan, terdapat beberapa jenis gamelan yang berkembang, salah satunya Degung. 

Asal Nama Degung

Melansir situs jatinangoritb.ac.id, nama Degung yang menempel pada gamelan ini diyakini berasal dari kata ratu-agung atau tumenggung. Karena Gamelan Degung ini sangat disukai oleh pejabat pada waktu itu.

Bupati Bandung pada saat itu, R.A.A. Wiranatakusuma, sangat menyukai Degung hingga mendokumentasikannya ke dalam bentuk rekaman suara. 

Ada juga yang mengatakan bahwa nama Degung berasal dari bahasa Sunda, “Deg ngadeg ka nu Agung” yang memiliki makna bahwa kita harus terus menghadap (beribadah) kepada Tuhan.

Dalam bahasa Sunda, banyak kata-kata yang berakhiran ‘gung’, yang berarti menunjukkan tempat/kedudukan yang tinggi dan terhormat. Seperti Pangagung, Agung, Tumenggung, dan sebagainya.

Oleh karena itu, Degung memberikan gambaran kepada masyarakat Sunda sebagai sesuatu yang agung dan terhormat, digemari oleh Pangagung.

Sejarah dan Perkembangan Degung

Menurut Rachel Swindells dalam tesisnya yang berjudul “Klasik, Kawih, Kreasi: Musical Transformation and the Gamelan Degung of Bandung, West Java, Indonesia”, Degung adalah gamelan kecil yang berasal dari masyarakat Sunda di Jawa Barat.

Meskipun tidak diketahui kapan pastinya Degung diciptakan, terdapat sumber yang mengatakan bahwa Degung sudah mulai banyak dikenal di akhir abad ke-19.

Pada tahun 1872, terdapat manuskrip yang mengatakan bahwa Kabupaten Galuh Sunda (dekat Ciamis) mempunyai 6 jenis gamelan, termasuk Degung. 

Mayoritas mengatakan bahwa degung dengan bentuk sekarang muncul di abad ke 18 atau 19, pada masa di mana bangsawan Sunda merasakan kemewahan harta dan status di bawah pemerintah Hindia-Belanda.

Kemakmuran bangsawan Sunda berasal dari pemasukan hasil produksi agrikultur di daerah yang mereka kuasai. Sehingga mereka mampu untuk mendukung berbagai jenis seni tradisional. 

Banyak teori yang mengatakan bahwa Degung ini berasal dari berbagai daerah di Jawa Barat. Mulai dari Cianjur, Cirebon, hingga Pajajaran yang sekarang menjadi Bogor. 

Sejarah Degung di Cianjur 

Menurut sejarawan Sunda Nina H. Lubis, bupati Cianjur pada tahun 1834-1863, R. Adipati Kusumaningrat (biasa dikenal dengan Dalem Pancaniti) memegang peran penting dalam perkembangan alat musik Degung.

Sebagai individu yang sangat mendukung seni, Dalem Pancaniti terkenal dengan dukungannya terhadap tembang Sunda. Sebuah genre musik yang mencapai puncak perkembangannya pada masa pemerintahan bupati ini di pertengahan abad ke-19.

Karena kemiripan antara tembang Sunda dan musik Degung, banyak musisi yang berpendapat bahwa kedua musik ini berkembang dekat satu sama lain. 

Sejarah Degung di Cirebon

Terdapat teori lain yang mengatakan bahwa Degung dibawa ke Cianjur dari Kerajaan Cirebon. Teori ini timbul karena ada seperangkat Gamelan Degung di Kasepuhan Kerajaan Cirebon, yang menurut catatan museum, sudah ada sejak tahun 1426 dan pada awalnya dibawa dari Banten.

Yang menarik, terdapat ilustrasi alat musik yang terdiri atas empat gong yang digantung dan dua gong individu. Gong ini memiliki kemiripan dengan jengglong dan bonang, yang merupakan komponen utama Gamelan Degung.

Ilustrasi ini ada di buku Historie van Indien, yang merupakan catatan perdagangan Belanda di Banten.  

Sejarah Degung di Pajajaran

Banyak musisi Sunda yang mengatakan bahwa degun dapat ditelusuri sejarahnya dari kerajaan Pajajaran, yang beribukota di tanah yang kini berdiri Bogor.

Teori ini memiliki dasar karena banyak pantun yang mengatakan nama Degung di Pajajaran. Akan tetapi, Van Zanten menganggap mengatakan degung berasal dari Pajajaran hanya karena pantun terlalu gegabah.

Editor : Bayu Putra
#masyarakat sunda #legendaris di sukoharjo #gamelan tradisional #alat musik #degung