Teras Bogor Viralpedia Wisata dan Kuliner Lifestyle

Mengulik Sejarah dan Peninggalan Masjid Al-Mustofa, Masjid Tertua di Kota Bogor yang Jadi Saksi Perkembangan Islam di Bogor

Muhamad Kafien Nibras • Rabu, 2 Oktober 2024 | 08:29 WIB
Masjid Al-Mustofa, masjid tertua di Kota Bogor. (Sentul.city)
Masjid Al-Mustofa, masjid tertua di Kota Bogor. (Sentul.city)

JP Bogor – Kota Bogor memiliki banyak situs bersejarah yang menjadi saksi perkembangan kota ini. Salah satu situs bersejarah ini adalah Masjid Al-Mustofa, yang kini sudah berusia hampir tiga abad.

Sebagai saksi bisu perkembangan Islam di Bogor, pemkot Bogor sudah menetapkan masjid ini sebagai cagar budaya pada tahun 2011 lalu. Masjid Al-Mustofa berlokasi di Jalan Ceremai Ujung, Kampung Bantarjati Kaum, Kelurahan Bantarjati, Kota Bogor. 

Sejarah Berdirinya Masjid Al-Mustofa

Kota Bogor yang dijuluki sebagai Kota Hujan dahulu pernah dikenal sebagai wilayah Pakuan-Pajajaran. Ibu kota Kerajaan Sunda di bawah pemerintahan Prabu Siliwangi tahun 1482.

Kerajaan ini mulai menguasai wilayah barat Pulau Jawa pada tahun 932 Masehi. Agama yang dianut oleh kerajaan ini adalah Hindu-Budha, sama seperti agama yang dianut oleh mayoritas kerajaan di Nusantara pada saat itu.

Namun, dengan mulai menyebarnya Islam di Nusantara, bermunculan berbagai kesultanan. Seperti Kesultanan Banten yang meruntuhkan kekuasaan Kerajaan Sunda di tahun 1579. Sejak saat itu, Islam mulai berkembang di daerah ini.

Untuk membantu persebaran Islam di kalangan masyarakat Sunda, Kyai Tubagus Mustofa Bakri bersama ketiga sahabatnya, Raden Dita Manggala, Khaidir, dan Khair membangun sebuah kampung yang dinamakan Kampung Baru.

Di Kampung Baru inilah Kyai Tubagus Mustofa Bakri dan Raden Dita Manggala memutuskan untuk mendirikan masjid Al-Mustofa.

Selain untuk keperluan beribadah masyarakat Kampung Baru, masjid ini juga digunakan untuk mendidik santri-santri Al-Mustofa, sehingga mendorong perkembangan Islam lebih jauh. 

Arsitektur dan Peninggalan Bersejarah di Masjid Al-Mustofa

Kyai Tubagus Mustofa Bakri merupakan keturunan Sunan Gunung Jati dan berasal dari Banten. Oleh karena itu, masjid Al-Mustofa dibangun tanpa kubah, khas gaya arsitektur Banten. Tidak seperti masjid kebanyakan yang menggunakan kubah.

Masjid ini awalnya berukuran 11x35 meter, dan dibangun dengan menggunakan batu kali asli yang kokoh untuk dindingnya, dan kayu jati untuk tiangnya.

Pada tahun-tahun berikutnya, dilakukan berbagai renovasi demi memperkokoh struktur bangunan. Seperti mengganti tiang menjadi dari beton hingga perluasan area masjid. 

Tidak hanya bangunannya saja yang menyimpan nilai historis. Di dalam Masjid Al-Mustofa juga terdapat peninggalan tua lainnya. Seperti Al-Quran yang ditulis tangan oleh Hasan Arya, anak pertama Kyai Tubagus Mustofa Bakri, dan juga khutbah dengan tulisan tangan.

Khutbah ini sudah memiliki salinannya, yang ditulis langsung oleh santri dan memakan waktu selama enam bulan agar tidak terjadi kekeliruan.

Saat ini, Al-Quran dan naskah khutbah diletakkan di dalam kotak kaca di dalam masjid, sehingga pengunjung dapat melihatnya secara langsung.

Selain itu, terdapat sumber mata air berumur ratusan tahun yang pernah digunakan oleh jamaah masjid dahulu, yang tidak pernah kering meskipun pada musim kemarau. 

Editor : Bayu Putra
#perkembangan islam #masyarakat sunda #masjid tertua #kota bogor #Masjid Al-Musthofa #kampung baru