JP Bogor – Setiap wilayah di Indonesia memiliki keunikan budaya yang khasnya masing-masing. Salah satu kekayaan budaya yang kerap menarik perhatian banyak orang adalah upacara adat di berbagai daerah yang mengakar pada nilai-nilai leluhur.
Upacara adat menjadi bentuk penghormatan kepada alam, nenek moyang, dan Tuhan Yang Maha Esa. Tradisi ini bukan sekadar ritual, tetapi juga wujud pelestarian identitas budaya setempat.
Beberapa upacara adat yang cukup terkenal adalah Ngaben dari Bali, yakni prosesi pembakaran jenazah sebagai bentuk penghormatan terakhir kepada yang telah meninggal dunia.
Lalu Di Sulawesi Selatan, ada upacara Rambu Solo', upacara kematian yang menjadi simbol penghormatan bagi leluhur dalam suku Toraja.
Jawa Barat juga memiliki upacara adat khas yang dinamakan Seren Taun. Upacara ini rutin dilakukan tiap tahunnya di beberapa daerah. Salah satunya di Desa adat Sindang Barang, Desa Pasir Eurih, Kecamatan Taman Sari, Kabupaten Bogor.
Seren taun merupakan upacara adat masyarakat sunda sebagai ungkapan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas hasil panen selama setahun terakhir. Sekaligus ungkapan doa agar hasil pertanian di tahun mendatang semakin baik.
Tradisi ini menjadi bentuk penghargaan atas alam dan kerja keras yang telah dilakukan selama masa bercocok tanam.
Istilah Seren Taun berasal dari bahasa Sunda, di mana "seren" berarti serah, seserahan, atau menyerahkan dan "taun" bermakna tahun. Bila dimaknai, Seren Taun mengandung arti serah terima dari tahun yang sebelumnya ke tahun yang baru sebagai tahun penggantinya.
Di kampung adat Sindang Barang, upacara adat seren taun Upacara Seren Taun digelar selama enam hari berturut-turut.
Selain berbagai ritual prosesi adat, upacara seren taun juga menampilkan berbagai kesenian Sunda. Seperti Rampak Kendang, réog anak-anak, angklung gubrag Cipining, dan kendang pencak.
Upacara adat seren taun di Desa adat Sindang Barang dimulai dengan prosesi Neteupken. Neteupken merupakan ritual yang dilakukan untuk menentukan waktu pelaksanaan tradisi Seren Taun.
Dalam prosesi Neteupken, tetua adat bersama para kokolot (sesepuh) dan masyarakat berkumpul untuk berdoa kepada Tuhan, memohon agar tradisi Seren Taun berjalan lancar dan selamat.
Setelah waktu pelaksanaan disepakati bersama, mereka kemudian berkumpul menikmati hidangan yang telah disiapkan sebagai bagian dari kebersamaan dalam prosesi tersebut.
Keesokan harinya, para kokolot melakukan prosesi adat selanjutnya, yaitu ritual Ngembang ke Makam Leluhur. Ritual ini dilakukan sebagai bentuk pemberitahuan kepada leluhur bahwa kampung akan melaksanakan tradisi Seren Taun.
Biasanya, makam leluhur yang diziarahi terletak di puncak Gunung Salak. Di mana untuk mencapainya perlu perjalanan mendaki selama beberapa jam.
Setelah berziarah ke makam leluhur, para kokolot kemudian menebarkan benih ikan di kolam sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan.
Pada hari berikutnya, prosesi upacara adat dilanjutkan dengan diadakannya ritual Ngala Cai Kukulu. Yakni proses pengumpulan air dari tujuh mata air yang dianggap suci. Selama pengambilan air, tetua adat dan kokolot diiringi permainan Angklung Gubrag yang dimainkan oleh para ibu.
Air yang telah dikumpulkan kemudian disatukan dalam satu wadah di Imah Bali dan didoakan agar membawa berkah.
Prosesi upacara seren taun berlanjut dengan tradisi sedekah kue dan berdoa di Alun-Alun Kampung Budaya Sindang Barang. Setelah berdoa, kue-kue yang disedekahkan akan diperebutkan oleh anak-anak dan para ibu yang antusias.
Setelah acara sedekah kue selesai, Prosesi upacara adat seren taun akan memasuki acara puncak, yaitu arak-arakan hasil bumi yang disebut Helaran Dongdang.
Dongdang memiliki makna hasil bumi, seperti buah, sayuran, dan padi yang disumbangkan oleh warga. Dongdang lalu dihelar atau diarak dari Imah Bali menuju Alun-Alun Sindang Barang, diiringi tari tani dan Angklung Gubrag.
Sesampainya di Alun-Alun, upacara ada seren taun dilanjutkan dengan ritual Majiken Pare Ambu dan Pare Ayah. Yaitu ritual memasukkan hasil panen padi ke lumbung sebagai persediaan pangan warga setempat selama satu tahun.
Setelah padi tersimpan, dongdang yang diarak menjadi rebutan warga dalam ritual Parebut Dongdang, yang diyakini membawa keberkahan bagi mereka yang berhasil mendapatkannya.
Dari berbagai rangkaian prosesi upacara adat tersebut, tampak bahwa upacara seren taun menjadi warisan budaya yang penuh makna dan nilai spiritual.
Melalui upacara ini, masyarakat Desa Sindang Barang di Kabupaten Bogor menyatukan rasa syukur, harapan, serta kebersamaan dalam menjaga hubungan harmonis dengan alam, leluhur, dan Tuhan Yang Maha Esa.
Editor : Bayu Putra