Teras Bogor Viralpedia Wisata dan Kuliner Lifestyle

Mengenal Perunggu, Band 'Rock Pulang Kantor' dengan Lirik yang Dalam

Abdul Hamid Dhaifullah • Jumat, 20 Juni 2025 | 22:00 WIB

Band Perunggu di sampul album Memorandum (Dok. Pinterest)
Band Perunggu di sampul album Memorandum (Dok. Pinterest)
JP Bogor – Di tengah riuhnya jalan-jalan ibu kota, setelah pekerjaan rampung dan pakaian kantor dilepas, tiga orang pria berkumpul dengan gitar, bass, dan drum. Bukan untuk sekadar melepas penat, tapi untuk menciptakan music yang lebih besar dari rutinitas mereka. Dari sinilah Perunggu lahir, sebuah band yang kini dikenal sebagai 'rock pulang kantor' paling jujur dan menyentuh dalam skena alternatif Indonesia.

Trio ini digawangi oleh Maul Ibrahim (vokal, gitar), Adam Adenan (bass, kibor, vokal latar), dan Ildo Hasman (drum, vokal latar), yang mulai bermain bersama sejak 2019. Meskipun karier bermusik mereka berawal dari keisengan, Perunggu telah menjelma menjadi fenomena kecil yang konsisten menyuarakan keresahan dan harapan urban dari balik meja kerja dan transportasi umum.

Album debut mereka, 'Memorandum' (2022), bukan sekadar koleksi lagu melainkan surat terbuka kepada kehidupan. Terdiri dari 11 lagu, album ini memuat tema-tema yang dekat dengan siapa pun yang tumbuh, bekerja, dan mencintai di kota besa. Mulai dari kelelahan, harapan yang rapuh, perasaan kehilangan, hingga cinta jarak jauh.

Lagu 'Biang Lara' mengisahkan kejujuran dalam menghadapi kekecewaan, Ini Abadi menyentuh relasi jarak jauh yang dipertahankan dengan percaya, dan 2012 menjadi ruang berkabung bagi mereka yang ditinggalkan. Di lagu '33x', Perunggu membuat catatan untuk diri sendiri bahwa tak apa untuk tidak baik-baik saja.

Namun, keistimewaan 'Memorandum' tak hanya pada tema dan liriknya. Cerita pembuatannya pun unik. Di mulai saat Adam tengah studi di Inggris, proses album ini terjadi secara jarak jauh, dengan demo mentah dikirimkan via surel dan disempurnakan selama pandemi. Hasilnya, lahir suara segar dalam musik alternatif Indonesia dengan musik yang dibuat bukan untuk viral, melainkan untuk bertahan.

Setelah 'Memorandum', Perunggu tidak berhenti. Pada 29 November 2024, mereka merilis singel anyar berjudul 'Tapi' sebagai pembuka menuju album kedua yang dijadwalkan rilis 2025 ini. Dirilis lewat Podium Records dan diproduksi mandiri, lagu ini menghadirkan wajah baru dari Perunggu yang lebih ringan, namun tetap menyimpan kedalaman emosi.

Secara musikal, 'Tapi' menawarkan nuansa berbeda. Seperti drum yang lebih kalem, alunan synth yang halus, distorsi gitar yang dikurangi, dan modulasi vokal yang memperkaya warna. Semua itu adalah hasil eksplorasi dari ketiga personel yang, menurut Maul, lahir dari keinginan alami manusia untuk terus 'ngulik'.

Maul menjelaskan bahwa mereka memang sengaja mencari hal baru saat menulis demo untuk album kedua. "Biar seru dan dinamis," ujarnya. Untuk memperkaya produksi, mereka turut melibatkan Enrico Octaviano (Lomba Sihir) dan Petra Sihombing sebagai produser.

Lirik 'Tapi' adalah cerita personal namun universal. Kembali mengambil latar relasi jarak Bandung–Jakarta, lagu ini membicarakan fase-fase penting dalam hidup perantau yang memulai dari kegusaran eksistensial hingga keputusan berat pindah kota demi masa depan.

Namun, semua kekalutan itu akhirnya diberi penutup lembut 'Doa Ibu'. Sebuah mantra kecil yang nyata, yang mampu menguatkan langkah. Lagu ini menjadi bukti lain bahwa Perunggu tetap setia pada pendekatan lirik yang jujur, reflektif, dan menggigit.

Di saat banyak band lahir untuk meraih sorotan, Perunggu hadir dengan cara yang nyaris sebaliknya, mereka tampil karena perlu. Perlu bersuara, perlu mencatat, dan perlu mengekspresikan hal-hal yang tidak bisa selalu dibicarakan di ruang kerja atau meja makan.

Dengan 'Memorandum' dan 'Tapi', Perunggu membuktikan bahwa musik bukanlah ruangan eksklusif milik seniman penuh waktu saja. Mereka adalah pekerja kantoran yang bermusik bukan untuk menang, tapi untuk bertahan, dan justru karena itulah mereka terasa dekat, nyata, dan menyentuh.

Dan kini, setelah menyapa pendengar lewat tunggalan baru, jalan menuju album kedua terbuka lebar dan siap untuk kembali menuliskan memo kehidupan dengan nada dan lirik yang mungkin lebih dewasa, tapi tak pernah kehilangan jujurnya.

Baca Juga: Apa Itu 'Indie' di Era Modern? Genre Musik atau Sekadar Gaya Hidup?

Editor : Candra Mega Sari
#bank #perunggu #rock