Teras Bogor Viralpedia Wisata dan Kuliner Lifestyle

Dari Feast hingga Lomba Sihir, 'Hindia' Baskara Putra dan Simfoni Identitas yang Tak Pernah Selesai

Abdul Hamid Dhaifullah • Jumat, 20 Juni 2025 | 21:30 WIB

Daniel Baskara Putra (Dok. Pinterest)
Daniel Baskara Putra (Dok. Pinterest)
JP Bogor - Dari Feast hingga Lomba Sihir, dari 'Peradaban' hingga 'Cincin', inilah perjalanan Hindia atau Daniel Baskara Putra, menulis ulang peta musik Indonesia dengan kejujuran yang menggelegar.

Sejak awal kemunculannya bersama band Feast pada 2012, Baskara sudah menandai dirinya sebagai musisi yang tak sekadar menghibur. Ia menggugat. Ia bertanya. Ia menyuarakan keresahan kolektif generasi muda dan melakukannya dengan estetika yang menggugah.

Nama Baskara pertama kali mencuat sebagai vokalis utama Feast, band rock alternatif yang menjadikan lagu 'Peradaban' sebagai semacam manifesto sonik. Tapi siapa sangka, justru ketika Baskara berjalan sendiri sebagai Hindia, suara yang ia bangun menjadi lebih personal dan justru lebih politis.

Tahun 2018 menjadi titik awal proyek solo ini. Lagu 'No One Will Find Me' dirilis sebagai langkah pertama. Namun baru pada 2019, lewat single 'Evaluasi' dan 'Secukupnya', Hindia benar-benar menggema. Bukan hanya di telinga pendengar, tapi di ruang-ruang hati yang tak ingin lagi pura-pura kuat.

Hindia bukan sekadar alter ego, melainkan cermin. "Saya memisahkan identitas saya di panggung dan di kehidupan pribadi," ujar Baskara dalam salah satu wawancara.

Pilihan nama itu pun jadi semacam ironi baginya. Hindia, kata yang lekat dengan sejarah kolonial, dihidupkan ulang untuk membicarakan kemerdekaan emosional dan spiritual.

Melalui lirik-liriknya, Baskara merumuskan ulang apa itu kesepian, kekacauan batin, dan harapan kecil yang tetap menyala. Lagu-lagu seperti 'Rumah ke Rumah', 'Jam Makan Siang', dan 'Masalah Masa Depan' berbicara tentang realitas sehari-hari dengan bahasa yang puitis sekaligus membumi.

Seiring popularitas yang melonjak, Hindia tak lepas dari kontroversi. Pada akhir 2023, potongan video konsernya menjadi viral, menimbulkan spekulasi liar tentang unsur mistik dan simbolisme yang dianggap kontroversial. Namun dengan tenang, Baskara melakukan klarifikasi, membuktikan bahwa seni tetap bisa tegas tanpa kehilangan esensinya.

Bahkan, di tengah semua itu, ia justru merilis karya paling personalnya, yaitu lagu 'Cincin,' didedikasikan untuk pasangannya, Meidaina Tahir. Lagu ini menjadi oase romantik dalam lanskap musik Hindia yang biasanya lebih sunyi dan reflektif.

Di balik gaya bermusik yang kontemplatif, Baskara telah mengukir prestasi konkret. Ia pernah dinominasikan sebagai Pendatang Baru Terbaik dan Artis Alternatif Terbaik di berbagai ajang musik nasional. Tahun 2020 dan 2023 menjadi penanda penting ketika ia meraih penghargaan Anugerah Musik Indonesia sebagai Artis Alternatif Solo Terbaik.

Tapi bagi Baskara, tampaknya pencapaian terbesar bukanlah piala, melainkan resonansi. Lagu-lagunya menyentuh ribuan, bahkan jutaan orang, tanpa perlu gimik atau sensasi.

Tak cukup dengan Feast dan Hindia, Baskara juga membentuk Lomba Sihir, sebuah band eksperimental yang lebih bebas dan berani dalam eksplorasi musikal. Bagi Baskara, tampaknya musik adalah ruang tak berbatas di mana ia bisa menjelma siapa pun selama tetap jujur.

Editor : Candra Mega Sari
#Daniel Baskara Putra #Hindia #lomba sihir #feast