Dari aksi kecil di depan parlemen Swedia, hingga mimbar-mimbar Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), suara Greta bergema lantang mewakili jutaan anak muda yang khawatir masa depan mereka dirampas oleh krisis iklim dan ketidakadilan global.
Greta Tintin Eleonora Ernman Thunberg lahir di Stockholm, Swedia, pada 3 Januari 2003. Berasal dari keluarga seni. Ibunya, Malena Ernman, adalah penyanyi opera. Ayahnya, Svante Thunberg, seorang aktor.
Sedari kecil Greta tumbuh dengan menunjukkan kepekaan sosial yang tinggi. Di usia 8 tahun, ia pertama kali menyadari skala krisis iklim yang mengancam planet ini. Tak hanya sekadar resah, Greta memutuskan untuk bertindak. Ia mengubah gaya hidup keluarganya dengan berhenti naik pesawat dan menjadi vegan, demi mengurangi jejak karbon pribadi.
Di usia 12 tahun, Greta didiagnosis dengan gangguan spektrum autisme. Namun, alih-alih melihatnya sebagai hambatan, Greta menyebut diagnosis itu sebagai "kekuatan super" yang membantunya fokus dan konsisten dalam memperjuangkan tujuan.
Aksi protes pertamanya dimulai pada Agustus 2018, saat ia berusia 15 tahun. Dengan poster bertuliskan "School Strike for Climate", Greta duduk sendirian di depan parlemen Swedia setiap Jumat. Aksi kecil ini segera menarik perhatian dunia dan melahirkan gerakan global Fridays for Future, yang menginspirasi jutaan anak muda di berbagai belahan dunia untuk melakukan mogok sekolah demi menuntut aksi nyata terhadap perubahan iklim.
Tak lama kemudian, Greta diundang berbicara di berbagai forum internasional. Pada Desember 2018, pidatonya di Konferensi Perubahan Iklim PBB (COP24) di Polandia menjadi viral.
Dengan gaya bicara lugas, Greta menegur para pemimpin dunia, "Kalian belum cukup dewasa untuk mengatakan apa adanya. Beban itu kalian tinggalkan untuk kami, anak-anak."
Puncak ketenarannya terjadi pada September 2019, saat Greta berbicara di KTT Aksi Iklim PBB di New York. Di hadapan para kepala negara, ia menyuarakan kekecewaannya dengan kalimat yang mengguncang dunia.
"Kalian telah mencuri mimpi dan masa kecil saya dengan kata-kata kosong kalian... Kita berada di awal kepunahan massal, dan yang kalian bicarakan hanya uang dan dongeng pertumbuhan ekonomi abadi. Bagaimana kalian berani!"
Pidato itu tak hanya mencuri perhatian publik, tetapi juga memancing cemoohan dari Presiden AS saat itu, Donald Trump. Dengan cerdas, Greta membalikkan ejekan Trump menjadi bagian dari profil Twitter-nya: "Seorang gadis muda yang sangat bahagia, menantikan masa depan yang cerah."
Seiring waktu, perjuangan Greta meluas ke isu-isu kemanusiaan lainnya. Pada Oktober 2023, ia secara terbuka menyatakan dukungannya kepada rakyat Palestina di Gaza, menyerukan gencatan senjata dan keadilan bagi semua pihak yang terdampak konflik. Dukungan itu berlanjut pada 2024, saat ia ditangkap dalam aksi protes di Universitas Kopenhagen dan Stockholm yang menolak perang di Gaza.
Pada Juni 2025, Greta kembali menjadi sorotan global saat bergabung dengan Freedom Flotilla Coalition, sebuah misi kemanusiaan yang berlayar menuju Gaza untuk mengantarkan bantuan medis dan makanan bayi. Namun, kapal mereka dicegat oleh angkatan laut Israel di perairan internasional, dan Greta beserta 11 aktivis lainnya ditahan sementara sebelum akhirnya dideportasi.
"Jika kalian melihat video ini, kami telah dicegat dan diculik di perairan internasional oleh pasukan pendudukan Israel," ujar Greta dalam video yang ia unggah dari kapal.
Meskipun mengalami detensi singkat, Greta menegaskan bahwa pengalamannya tak sebanding dengan penderitaan rakyat Palestina, "Kondisinya kacau dan tak pasti, tetapi sama sekali tidak sebanding dengan apa yang dialami warga Gaza."
Perjuangan Greta tak luput dari apresiasi dunia. Ia dinominasikan untuk Nobel Perdamaian lima kali berturut-turut sejak 2019, menjadi Person of the Year versi TIME di usia 16 tahun, penghargaan termuda yang pernah diberikan majalah tersebut, dan terus diundang ke berbagai forum dunia untuk menyuarakan krisis iklim.
Namun, bagi Greta, penghargaan bukanlah tujuan. Ia menegaskan bahwa perannya hanyalah satu dari banyak aktivis yang mendorong aksi iklim. Dirinya tidak melihat pribadinya sebagai pemimpin atau suatu simbol gerakan.
Lebih dari sekadar figur protes, Greta Thunberg adalah pengingat hidup bahwa suara generasi muda tak bisa diabaikan. Ia menunjukkan bahwa kemarahan anak-anak dan remaja adalah bentuk cinta mereka terhadap masa depan.
Seperti yang ia tegaskan, "Jika mereka ingin kita berhenti marah, mungkin mereka harus berhenti membuat kita marah."
Editor : Candra Mega Sari