Teras Bogor Viralpedia Wisata dan Kuliner Lifestyle

Yap Thiam Hien, Sang Advokat Kebenaran yang Tak Pernah Menjual Hati ke Kekuasaan

Abdul Hamid Dhaifullah • Rabu, 14 Mei 2025 | 10:00 WIB
Sosok Yap Thiam Hien (Dok. Pinterest)
Sosok Yap Thiam Hien (Dok. Pinterest)

JP Bogor - Di tengah hiruk-pikuk dunia hukum yang kerap dinodai oleh tawar-menawar kekuasaan dan kepentingan, berdirilah sosok advokat langka yang menjadikan kebenaran sebagai kompas utamanya, Yap Thiam Hien. Dikenal karena keteguhan moralnya, Yap bukanlah pengacara yang menjanjikan kemenangan. Ia menawarkan sesuatu yang lebih dalam dan abadi, yaitu pembelaan terhadap kebenaran.

Lahir di Aceh pada 25 Mei 1913, Yap dibesarkan dalam lingkungan feodal yang menumbuhkan rasa anti-penindasan. Setelah menempuh pendidikan hukum di Universitas Leiden, Belanda, ia kembali ke tanah air untuk menempuh jalan sunyi sebagai pembela hak asasi manusia (HAM), terutama bagi kaum tertindas dan minoritas.

Yap menolak tunduk pada sistem yang timpang. Dalam sidang Konstituante tahun 1959, ia satu-satunya yang menolak usulan kembali ke UUD 1945, karena mengandung pasal diskriminatif. Saat pengacara lain berburu kemenangan di ruang sidang, Yap tak segan menyampaikan kebenaran yang pahit, seperti dalam kasus yurisprudensi soal imunitas advokat yang mengantarnya ke penjara hanya untuk dibebaskan di Mahkamah Agung karena keberaniannya membela prinsip.

Sebagai salah satu pendiri Lembaga Bantuan Hukum bersama tokoh seperti Adnan Buyung Nasution dan Albert Hasibuan, Yap menginisiasi layanan hukum gratis bagi rakyat miskin jauh sebelum pro bono menjadi kewajiban. Ia juga turut mendirikan Universitas Kristen Indonesia dan Universitas Tarumanagara demi membuka akses pendidikan yang setara.

Meski keturunan Tionghoa dan Kristen dalam masyarakat mayoritas, Yap tak pernah mundur dalam memperjuangkan keadilan. Ia membela Soebandrio di era Orde Baru, dan menolak tunduk pada tekanan politik. Sejarah mencatatnya bukan sebagai pemenang perkara, melainkan sebagai penjaga nyala nurani hukum.

Hari ini, nama Yap Thiam Hien diabadikan dalam bentuk penghargaan tahunan bagi pejuang HAM. Namun lebih dari sekadar nama dalam trofi, warisannya hidup dalam setiap advokat yang memilih berdiri di sisi yang benar meski sendirian.

Sebagaimana ia pernah berkata, "Kalau Saudara ingin menang perkara, jangan pilih saya. Tapi jika Saudara ingin meletakkan kebenaran di pengadilan, saya bersedia." Sebuah pernyataan yang seharusnya menjadi kompas moral bagi setiap pengacara Indonesia hari ini.

Editor : Candra Mega Sari
#yap thiam hien #advokat #kebenaran #kekuasaan