Lahir sebagai Lhamo Dhondup pada 6 Juli 1935 di desa kecil Taktser, Tibet Timur Laut, ia dikenali pada usia dua tahun sebagai reinkarnasi ke-13 Dalai Lama, Thubten Gyatso. Gelar "Dalai Lama" sendiri berarti "Samudra Kebijaksanaan", dan ia diyakini sebagai manifestasi dari Bodhisattva Welas Asih, Avalokiteshvara.
Namun, takdirnya jauh dari sekadar gelar spiritual. Pada usia 16 tahun, ia harus mengambil alih kekuasaan politik Tibet, tepat saat bayang-bayang invasi Tiongkok mulai menyelimuti tanah kelahirannya.
Lima tahun kemudian, pada 1959, menyusul penindasan pemberontakan Tibet di Lhasa, Dalai Lama muda melakukan perjalanan dramatis melintasi pegunungan Himalaya untuk mengungsi ke India, tempat ia membangun "Little Lhasa" di kota Dharamsala sebagai pusat pemerintahan Tibet di pengasingan.
Di pengasingan, ia tidak membangun kekuasaan, tetapi justru memelopori demokrasi. Pada 1963, ia memperkenalkan rancangan konstitusi demokratis untuk Tibet. Proses panjang ini mencapai puncaknya pada 2011 ketika Dalai Lama secara resmi melepaskan seluruh peran politik dan menyerahkannya kepada pemimpin terpilih rakyat Tibet. Dengan ini, berakhir pula tradisi 368 tahun di mana Dalai Lama menjadi kepala negara dan agama.
Lebih dari sekadar pemimpin, Dalai Lama adalah duta damai dunia. Dalam pidato-pidatonya, baik di Kongres AS maupun Parlemen Eropa, ia menyerukan transformasi Tibet menjadi zona damai dan menolak kolonisasi budaya serta pencemaran lingkungan oleh Tiongkok. Lima Poin Rencana Damai yang ia gagas pada 1987 menempatkannya sebagai simbol perjuangan tanpa kekerasan yang kemudian membuahkan Hadiah Nobel Perdamaian tahun 1989.
Di dunia Barat, ia membangun jembatan lintas iman dan ilmu. Ia berdialog dengan Paus Yohanes Paulus II, pemimpin Yahudi dan Islam, hingga ilmuwan dari bidang neurobiologi dan fisika kuantum. Ia bahkan mendorong integrasi sains ke dalam kurikulum pendidikan monastik Tibet. Dalai Lama percaya bahwa perdamaian dunia bermula dari kedalaman jiwa manusia. "Tanggung jawab universal," ujarnya, "berarti merasakan penderitaan orang lain sebagaimana kita merasakan penderitaan kita sendiri."
Kini, di usia senja, ia menatap masa depan lembaga Dalai Lama dengan bijak. Ia menyatakan bahwa kelanjutan reinkarnasi Dalai Lama tergantung pada kehendak rakyat Tibet dan umat Buddha. Ia juga telah menyiapkan panduan rinci agar proses pengakuan penerusnya kelak terbebas dari manipulasi politik.
Editor : Candra Mega Sari