Teras Bogor Viralpedia Wisata dan Kuliner Lifestyle

Refleksi Perayaan Hari Waisak sebagai Momen Pencerahan dan Jalan Menuju Kedamaian

Abdul Hamid Dhaifullah • Rabu, 14 Mei 2025 | 08:00 WIB

Patung-patung Buddha di kuil Thailand (Dok. Pinterest)
Patung-patung Buddha di kuil Thailand (Dok. Pinterest)
JP Bogor - Setiap tahun, saat bulan purnama di bulan Vaisakha menyinari langit, jutaan umat Buddha di seluruh dunia menyambut hari suci terpenting bagi mereka, Hari Raya Waisak. Namun lebih dari itu, Waisak bukan sekadar hari raya keagamaan atau ritual tahunan. Waisak adalah peringatan spiritual yang menyatukan tiga peristiwa agung dalam kehidupan Sang Buddha. Saat kelahiran, pencerahan, dan wafatnya Siddharta Gautama.

Hari Raya Waisak, atau disebut juga Visakha Puja, memperingati momen-momen penting dalam perjalanan spiritual pendiri agama Buddha dari kelahirannya di Taman Lumbini pada tahun 623 SM, pencapaian pencerahan sempurna di bawah pohon Bodhi tahun 588 SM, dan Parinibbana (wafatnya Buddha) di Kusinara pada usia 80 tahun.

Menariknya, ketiga peristiwa itu terjadi pada hari yang sama dalam kalender Buddhis, bulan purnama Vaisakha, menjadikan Waisak sebagai momentum refleksi spiritual paling sakral dalam agama Buddha.

Waisak bukan hanya tentang persembahyangan di kuil atau melepas burung sebagai lambang kebebasan. Di altar, umat Buddha biasa memandikan patung Buddha kecil dengan air bunga sebagai simbol penyucian diri dari karma buruk. Di balik tindakan-tindakan itu, terdapat makna mendalam soal melepaskan ego, membebaskan makhluk hidup, dan menelusuri kembali ajaran Dharma.

Menurut Taram Jimo dalam buku "Pendidikan Agama Buddha dan Budi Pekerti", Waisak adalah momen jeda, ketika umat Buddha diajak untuk merenung. Tentang penderitaan dan jalan keluarnya. Tentang bagaimana hidup yang bijak bisa menjadi kunci kebebasan dari keterikatan duniawi.

Sang Buddha bukan hanya tokoh spiritual, tetapi juga teladan hidup. Dalam ajaran-Nya terkandung prinsip penting, "Yatha vadi tatha kari, yatha kari tatha vadi".  Artinya, apa yang diajarkan adalah yang dijalani, dan apa yang dijalani adalah yang diajarkan.

Buddha mengajarkan welas asih, kedamaian batin, dan kebijaksanaan bukan sebagai dogma, tetapi sebagai jalan hidup. Waisak menjadi saat yang tepat untuk menghidupkan kembali nilai-nilai itu di tengah dunia yang sering gaduh dan penuh ketidaktentraman.

Di Indonesia, Hari Raya Waisak telah ditetapkan sebagai hari libur nasional sejak 1983 melalui Keputusan Presiden RI Nomor 3 Tahun 1983. Di antara hari-hari suci umat Buddha lainnya, seperti Magha Puja dan Asadha Puja, Waisak menjadi satu-satunya yang secara resmi diakui negara. Ini menandakan pentingnya hari ini tidak hanya bagi umat Buddha, tetapi juga sebagai bagian dari warisan spiritual bangsa.

Editor : Candra Mega Sari
#hari raya waisak #siddharta gautama #buddha #waisak