Pada sore musim panas itu, Wembley Stadium dipenuhi 72.000 penonton dan ditonton hampir 2 miliar pasang mata di seluruh dunia. Di antara deretan artis kelas dunia seperti David Bowie, Elton John, U2 hingga Madonna di panggung Philadelphia, satu band tampil tak terlupakan. Band itu adalah Queen. Dan sejak saat itu, Live Aid 1985 resmi dikenang milik Freddie Mercury dan kawan-kawan.
Padahal, sebelumnya partisipasi Queen sempat diragukan. Bahkan Bob Geldof, penyelenggara Live Aid, awalnya menganggap mereka sudah "habis masa kejayaannya". Namun promotor Harvey Goldsmith bersikukuh. Ia tahu slot sore hari butuh sesuatu yang menggelegar. "Saya bilang ke Bob, tak ada band lain yang bisa seperti Queen," katanya mengutip dari situs mojo4music.com.
Queen bukan band sembarangan. Setelah menerima undangan, mereka menyewa Shaw Theatre di London dan berlatih selama seminggu penuh. Tak ada waktu untuk soundcheck, tak ada permainan instan, hanya persiapan matang demi memastikan setiap nada dan jeda terasa sempurna.
Mereka juga cerdas dalam memilih waktu tampil pada pukul 18.41 waktu London. Saat itu bertepatan dengan siaran dari Wembley sudah tersambung secara global dan nyaris mendekati prime time.
Diperkenalkan dengan candaan dua komedian Inggris, Queen naik ke atas panggung dengan Freddie Mercury sebagai maestro sejati. Ia membuka dengan piano dan potongan megah dari Bohemian Rhapsody, sebelum langsung membakar semangat penonton dengan Radio Ga Ga.
Kemudian datang momen yang melegenda itu, "Ay-oh!" seruan Freddie yang dibalas massal oleh penonton Wembley. Potongan itu kini dijuluki "The note heard around the world", nada yang menggema menembus benua.
Dengan solo gitar tajam dari Brian May dan irama kokoh dari Roger Taylor dan John Deacon, Queen menggebrak lagu-lagu seperti Hammer to Fall, Crazy Little Thing Called Love, We Will Rock You, dan menutup dengan We Are the Champions.
Mercury tampil hanya dengan tank top putih, jeans ketat, dan gelang studded. Meski begitu, dirinya terlihat menguasai panggung seakan-akan itu singgasananya. Ia bukan sekadar penyanyi. Ia konduktor dari puluhan ribu suara.
Elton John bergegas masuk ke ruang ganti dan berseru,"You bastards, you stole the show!" Tak hanya para penggemar, bahkan sesama musisi pun mengakui kehebatan mereka.
Dave Grohl menyebut, "Mereka berjalan meninggalkan semua orang, menjadi band terbesar yang pernah ada." Bob Geldof sendiri mengakui, "Queen adalah yang terbaik hari itu. Mereka tahu caranya. Panggung itu diciptakan untuk Freddie."
Konser itu menjadi titik balik. Dua bulan kemudian Queen merilis A Kind of Magic, diikuti tur dunia bersejarah. Namun, Live Aid tetap menjadi mahkota karier mereka.
Editor : Candra Mega Sari