Teras Bogor Viralpedia Wisata dan Kuliner Lifestyle

Legenda Paus Joan: Ketika Seorang Perempuan Diduga Memimpin Gereja Katolik

Abdul Hamid Dhaifullah • Selasa, 6 Mei 2025 | 18:30 WIB
Ilustrasi Paus Joan dalam lukisan masa lalu. (historyextra.com)
Ilustrasi Paus Joan dalam lukisan masa lalu. (historyextra.com)

JP Bogor – Dalam sejarah panjang Gereja Katolik, hanya ada satu hal yang tampaknya tak tergoyahkan bahwa Paus selalu seorang pria. Namun, sebuah legenda tua mengisahkan sesuatu yang jauh berbeda. Dikisahkan seorang perempuan yang menyamar sebagai laki-laki, naik ke takhta tertinggi gereja, dan memimpin sebagai Paus. Namanya Paus Joan. Bukan John. Joan.

Konon, Paus Joan hidup dan menjabat sebagai Paus pada abad ke-9, sekitar tahun 855–857. Ia dikenal sebagai wanita yang cerdas, terpelajar, dan berhasil menyamar sebagai laki-laki untuk bisa masuk ke dalam lingkungan gereja. Kisahnya pertama kali ditulis pada abad ke-13 dalam kronik karya Jean de Mailly, dan dengan cepat menyebar ke seluruh Eropa, dipercaya oleh banyak orang selama berabad-abad.

Dikisahkan bahwa Joan atau Yohana, yang mungkin berasal dari Inggris atau Jerman, berhasil menapaki jenjang kekuasaan gereja tanpa seorang pun mencurigai jati dirinya. Namun semuanya terbongkar dalam suatu peristiwa dramatis saat dirinya memimpin prosesi keagamaan. Paus Joan dikisahkan melahirkan di tengah jalan, tepatnya di atas seekor kuda. Fakta ini menjadi bukti tak terbantahkan bahwa ia adalah seorang perempuan.

Setelah kejadian itu, Paus Joan dikabarkan meninggal, ada yang menyebut karena komplikasi persalinan, ada pula yang menduga ia dibunuh. Sebagai akibat dari skandal ini, lokasi tempat kejadian itu terjadi dihindari dalam prosesi gereja selama bertahun-tahun. Beberapa spekulasi menyebut bahwa Vatikan kemudian menghapus seluruh jejak keberadaan Joan dari catatan resmi dan menerapkan ritual baru untuk memastikan bahwa Paus selanjutnya benar-benar pria.

Legenda ini terus berkembang, diselingi berbagai versi dan reinterpretasi. Dalam buku Chronicon Pontificum et Imperatorum karya Martin of Opava, Paus Joan diberi nama "John Anglicus dari Mainz", seorang perempuan yang masuk gereja mengikuti kekasihnya. Sumber-sumber lain bahkan menyebut namanya Agnes, dan menyatakan bahwa patung dirinya pernah berdiri di Roma.

Namun, sejak abad ke-18, baik kalangan Katolik maupun Protestan mulai sepakat bahwa kisah Paus Joan tidak memiliki dasar historis. Para sejarawan modern menemukan banyak kejanggalan kronologis, serta absennya catatan tentang dirinya dalam dokumen-dokumen musuh Vatikan. Sebagian menyimpulkan bahwa kisah Joan mungkin merupakan bentuk satir politik oleh rakyat Roma pada masa ketika kekuasaan Paus tengah meluas dan menuai resistensi.

Meski diduga fiktif, Paus Joan tetap menjadi simbol yang kuat dalam perdebatan soal gender dan kekuasaan. Di masa Reformasi Protestan, ia digunakan sebagai argumen untuk membuktikan kebobrokan kepausan. Di sisi lain, dalam konteks modern, Joan dianggap oleh sebagian sebagai sosok feminis awal, bahkan oleh beberapa pihak, sebagai tokoh trans dalam sejarah awal kekristenan. Film-film dan karya seni modern pun menghidupkan kembali narasinya dengan tafsir yang lebih segar.

Hari ini, Gereja Katolik perlahan mulai membuka ruang bagi perempuan. Seorang biarawati baru-baru ini mendapat hak suara dalam pemungutan di Vatikan, sebuah langkah maju yang tak terbayangkan di masa lalu. Tapi untuk melihat seorang Paus perempuan resmi memimpin misa di Basilika Santo Petrus? Mungkin itu masih jadi mimpi jauh di masa depan.

(*)

Editor : Siti Nur Qasanah
#Joan #paus #legenda #gereja katolik #perempuan