JP Bogor – Di tengah derasnya arus budaya digital di media sosial, istilah "narsis" kerap dilontarkan untuk menggambarkan orang-orang yang terlalu terobsesi pada penampilan atau citra diri. Tapi di balik kata yang kini akrab di telinga masyarakat modern itu, tersimpan sebuah kisah mitologis kuno yang tragis dan memikat. Kisah itu tentang Narcissus, pemuda tampan dari Yunani Kuno yang jatuh cinta pada bayangan dirinya sendiri.
Menurut mitologi Yunani, mengutip dari situs greekreporter.com dan worldhistory.com, Narcissus adalah putra dari nimfa Liriope dan dewa sungai Cephissus. Ia tumbuh menjadi seorang pemuda luar biasa tampan. Saking tampannya hingga banyak nimfa dan manusia tergila-gila padanya. Namun, ia juga dikenal dingin dan kejam terhadap siapa pun yang menyatakan cinta.
Sejak kecil, orang tuanya telah diperingatkan oleh seorang peramal buta, Tiresias, bahwa sang anak hanya akan hidup panjang jika ia "tidak pernah mengenal dirinya sendiri". Sebuah peringatan yang terdengar ganjil, namun perlahan menjadi kenyataan tragis.
Di antara banyak hati yang patah karena ulah Narcissus, salah satu yang paling menyedihkan adalah nimfa hutan bernama Echo. Ia telah dikutuk oleh dewi Hera karena pernah menutupi perselingkuhan Zeus dengan mengalihkan perhatian sang dewi lewat cerita-cerita panjang. Sebagai hukuman, Echo kehilangan kemampuannya untuk berbicara bebas, ia hanya bisa mengulang kata-kata terakhir yang diucapkan orang lain.
Ketika ia bertemu dengan Narcissus, ia langsung jatuh cinta. Namun, keterbatasan dalam berbicara membuatnya hanya bisa mengikuti dari kejauhan, mengulang setiap kata yang diucapkan sang pemuda.
Saat akhirnya mencoba mendekat, Narcissus menolak dan malah mengejeknya, tidak memahami bahwa yang mengikutinya adalah sosok yang benar-benar mencintainya. Patah hati, Echo menghilang ke dalam gua, tubuhnya memudar dan hanya suaranya yang tersisa, bergema di antara lembah dan bebatuan.
Penolakan terhadap Echo ternyata tak berakhir di situ. Dewi pembalasan, Nemesis, mendengar permintaan Echo untuk menghukum Narcissus. Maka pada suatu hari, saat sang pemuda tengah berburu, ia menunduk ke sebuah kolam bening dan melihat pantulan wajah yang begitu sempurna. Tak sadar bahwa yang ia lihat adalah dirinya sendiri, Narcissus jatuh cinta pada bayangan itu, cinta yang mustahil, tak tersentuh, dan tak pernah membalas.
Dikuasai oleh obsesi pada sosok di air, ia tak mampu berpaling. Hari demi hari, ia terus menatap pantulan itu, melupakan makan dan minum, hingga akhirnya tubuhnya melemah. Di tepi kolam itulah ia meninggal, dan para nimfa yang pernah mencintainya hanya menemukan sebuah bunga tumbuh di tempat tubuhnya terbaring. Bunga itu kemudian dinamai narcissus, menjadi simbol cinta yang terlalu dalam terhadap diri sendiri dan harga yang harus dibayar untuknya.
Berabad-abad setelah kisah ini diceritakan turun-temurun, nama Narcissus kembali muncul dalam dunia psikologi. Pada tahun 1899, Havelock Ellis memperkenalkan istilah narcissism untuk menjelaskan kecenderungan seseorang yang terlalu terobsesi dengan tubuh atau dirinya sendiri. Sigmund Freud kemudian memperluas istilah ini menjadi bagian dari konsep psikologi kepribadian, menggambarkan individu yang terlalu mencintai diri sendiri dan tidak memiliki empati terhadap orang lain.
(*)
Editor : Siti Nur Qasanah