JP Bogor - Berdoa di pagi hari merupakan salah satu cara terbaik untuk memulai hari dengan penuh semangat, harapan, dan keberkahan.
Nabi Muhammad SAW memberikan teladan penting dalam hal ini, dengan senantiasa memanjatkan doa di waktu pagi untuk memohon keberkahan dan perlindungan sepanjang hari.
Sebagaimana hadis yang diriwayatkan oleh Tirmidzi, Nabi Muhammad SAW berdoa "Ya Allah, berikanlah berkah kepada umatku di pagi hari mereka".
Doa ini menunjukkan betapa pentingnya waktu pagi sebagai awal yang menentukan perjalanan hari. Nabi Muhammad SAW mendoakan umatnya agar mendapat keberkahan di waktu pagi sehingga aktivitas yang dilakukan menjadi bernilai dan bermanfaat.
Melansir sibeunteurgeulis.majalengkakab.go.id, disebutkan bahwa doa Nabi Muhammad SAW ini bertujuan untuk memberikan keberkahan kepada umatnya dalam menjalani aktivitas sejak pagi.
Doa tersebut merupakan pengingat agar umat Islam tidak menyia-nyiakan waktu pagi, melainkan memanfaatkan momen ini untuk memulai hari dengan semangat yang positif.
Selain itu, seperti yang diuraikan di situs mui.or.id, Al-Qur'an juga menganjurkan umat Islam untuk senantiasa mengingat Allah di waktu pagi dan petang. Hal ini ditegaskan dalam firman-Nya:
"Ingatlah Tuhanmu dalam hatimu dengan rendah hati dan rasa takut pada waktu pagi dan petang, dengan tidak mengeraskan suara, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lengah" (QS Al-A’raf [7]: 205).
Ayat ini mengingatkan pentingnya menjadikan pagi hari sebagai waktu produktif untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT, bukan untuk bermalas-malasan atau kembali tertidur.
Dengan memulai pagi bersama Allah SWT, seorang muslim dapat meraih ketenangan hati sekaligus keberkahan dalam setiap langkah.
Nabi Muhammad SAW memiliki beberapa doa yang selalu dibaca di waktu pagi, yakni:
1. Doa Nabi Muhammad SAW untuk Memulai Hari
Salah satu doa pagi yang diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW berasal dari kitab Al-Adzkar karya Imam Nawawi. Doa ini biasa dipanjatkan oleh Rasulullah setiap pagi:
Bacaan Arab: اللَّهُمَّ بِكَ أَصْبَحْنَا وَبِكَ أَمْسَيْنَا وَبِكَ نَحْيَا وَبِكَ نَمُوتُ وَإِلَيْكَ النُّشُورُ
"Allahumma bika ashbahna, wa bika amsaina, wa bika nahya, wa bika namutu, wa ilaika n-nusyur."
Artinya: "Ya Allah, dengan izin-Mu kami berpagi hari, dengan izin-Mu pula kami bersore hari. Dengan kekuasaan-Mu kami hidup, dan dengan kehendak-Mu kami wafat. Hanya kepada-Mu kami akan kembali." (HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi)
Doa ini mengingatkan kita untuk selalu berserah diri kepada Allah SWT dari pagi hingga malam hari, dalam kehidupan dan setelah kematian.
2. Doa Lain Nabi Muhammad SAW di Pagi Hari
Selain doa di atas, Nabi Muhammad SAW juga mengajarkan doa lainnya untuk dibaca saat pagi. Doa ini diriwayatkan oleh Ibnu Mas’ud dalam Shahih Muslim. Berikut adalah doanya:
Bacaan Arab: أَصْبَحْنَا وَأَصْبَحَ الْمُلْكُ لِلَّهِ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ، لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ...
"Ashbahna wa ashbahal mulku lillahi wal hamdu lillahi, la ilaha illallahu wahdahu la syarika lah, lahul mulku wa lahul hamdu wa huwa ‘ala kulli syai’in qadir."
Artinya: "Kami dan kekuasaan Allah berpagi hari. Segala puji bagi Allah. Tiada Tuhan selain Allah yang Maha Esa, tiada sekutu bagi-Nya. Bagi-Nya segala kuasa dan puji. Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu."
Doa ini mengajarkan pentingnya mengawali pagi dengan rasa syukur atas segala nikmat Allah SWT dan memperkuat keyakinan akan keesaan-Nya.
3. Doa Pagi Khusus Hari Jumat
Hari Jumat memiliki keutamaan khusus dalam Islam. Nabi Muhammad SAW juga mengajarkan doa yang dapat dibaca pada pagi hari Jumat. Berikut doanya:
Bacaan Arab: أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ
"Astaghfirullāhalladzī lā ilāha illā huwal hayyul qayyūmu wa atūbu ilaih."
Artinya: "Aku memohon ampun kepada Allah, Dzat yang tiada Tuhan selain Dia, yang Maha Hidup, lagi Maha Berdiri Sendiri. Aku bertaubat kepada-Nya."
Doa ini mengandung pengakuan atas keagungan Allah SWT sekaligus memohon ampunan dan keberkahan di hari yang mulia.
(*)
Editor : Siti Nur Qasanah