Teras Bogor Viralpedia Wisata dan Kuliner Lifestyle

Mengingat Kembali Sejarah Singkat Kebun Raya Bogor

Ghina Fadiah Rahma • 2025-05-16 09:10:45
Sejarah Kebun Raya Bogor. (commons.wikimedia.org)
Sejarah Kebun Raya Bogor. (commons.wikimedia.org)

JP Bogor - Kebun Raya Bogor bukan sekadar taman botani biasa, ia adalah saksi bisu perjalanan panjang sejarah dan ilmu pengetahuan di Indonesia. Terletak di jantung Kota Bogor, kebun seluas 87 hektar ini menyimpan lebih dari 15.000 jenis koleksi pohon dan tumbuhan, menjadikannya salah satu kebun raya tertua dan terpenting di Asia Tenggara.

Asal-usul Kebun Raya Bogor dapat ditelusuri hingga era Kerajaan Sunda, ketika Sri Baduga Maharaja atau Prabu Siliwangi memerintah antara tahun 1474 hingga 1513. Pada masa itu, didirikanlah 'samida', hutan buatan yang berfungsi sebagai tempat pelestarian benih-benih kayu langka. Prasasti Batutulis mencatat keberadaan samida ini, yang menunjukkan kesadaran lingkungan yang tinggi pada masa tersebut.

Setelah jatuhnya Kerajaan Sunda oleh Kesultanan Banten, samida tersebut terbengkalai hingga abad ke-18, ketika Gubernur Jenderal Hindia Belanda membangun rumah peristirahatan di salah satu sudutnya. Namun, transformasi signifikan terjadi pada awal 1800-an saat Thomas Stamford Raffles, Gubernur Jenderal Inggris, mengubah halaman Istana Bogor menjadi taman bergaya Inggris dengan bantuan arsitek lanskap W. Kent.

Ide pendirian kebun raya muncul dari seorang ahli biologi bernama Abner, yang mengusulkan kepada Gubernur Jenderal G.A.G.Ph. van der Capellen untuk mendirikan kebun tumbuhan berguna sebagai tempat pendidikan dan koleksi tumbuhan. Usulan ini disambut baik, dan pada 18 Mei 1817, secara resmi didirikanlah 's Lands Plantentuin te Buitenzorg, yang kini dikenal sebagai Kebun Raya Bogor.

Caspar Georg Karl Reinwardt, seorang ahli botani Jerman-Belanda, ditunjuk sebagai direktur pertama kebun raya ini. Ia memimpin pengumpulan tanaman dan benih dari berbagai penjuru Nusantara, menjadikan Bogor sebagai pusat pengembangan pertanian dan hortikultura di Indonesia. Reinwardt juga merintis pendirian Herbarium Bogoriense, yang menjadi pusat dokumentasi tumbuhan di Indonesia.

Setelah Reinwardt kembali ke Belanda pada tahun 1822, kepemimpinan kebun raya dilanjutkan oleh Dr. Carl Ludwig Blume, yang melakukan inventarisasi tanaman dan menyusun katalog pertama dengan 912 spesies. Kemudian, Johannes Elias Teijsmann mengambil alih pada tahun 1831 dan melakukan pengelompokan tanaman berdasarkan keluarga, serta membawa ribuan spesies tumbuhan dari perjalanannya ke berbagai negara.

Pada akhir abad ke-19, di bawah kepemimpinan Melchior Treub, kebun raya mengalami perluasan hingga mencakup 60 hektar dan fokus pada penelitian penyakit tanaman yang mengancam tanaman ekonomi seperti kopi dan tebu. Treub juga mendirikan laboratorium penelitian pada tahun 1914, yang kemudian dikenal sebagai Laboratorium Treub.

Masa pendudukan Jepang selama Perang Dunia II membawa tantangan baru bagi Kebun Raya Bogor. Namun, dua botaniwan Jepang yang ditunjuk untuk mengelola kebun berhasil mencegah kerusakan besar dengan melindungi koleksi tanaman dari penebangan oleh tentara. Setelah Indonesia merdeka, pengelolaan kebun raya diambil alih oleh pemerintah Indonesia, dengan Kusnoto Setyodiwiryo sebagai direktur pertama dari Indonesia.

Pada tahun 1962, Kebun Raya Bogor menjadi bagian dari Lembaga Biologi Nasional (LBN), dengan Otto Soemarwoto sebagai direktur pada tahun 1964. Di bawah kepemimpinannya, kebun raya difokuskan sebagai institusi penelitian biologi tropis, memberikan kontribusi besar bagi pertanian, industri farmasi, dan kesehatan di Indonesia.

Kebun Raya Bogor juga menjadi tempat peringatan penting, seperti Tugu Lady Raffles yang didirikan untuk mengenang Olivia Mariamne Raffles, istri Thomas Stamford Raffles, yang meninggal di Bogor pada tahun 1814. Monumen ini menjadi salah satu daya tarik sejarah di dalam kebun raya.

Hingga saat ini, Kebun Raya Bogor terus berkembang dan menjadi pusat penelitian serta konservasi tumbuhan tropis. Dengan koleksi yang terus bertambah dan fasilitas penelitian yang modern, kebun raya ini tetap menjadi kebanggaan Indonesia dalam bidang botani dan konservasi.

Sebagai tempat wisata edukatif, Kebun Raya Bogor menawarkan pengalaman yang kaya akan sejarah, ilmu pengetahuan, dan keindahan alam. Pengunjung dapat menikmati keanekaragaman hayati sambil mengenang perjalanan panjang kebun raya ini dalam kontribusinya terhadap ilmu pengetahuan dan pelestarian lingkungan di Indonesia. (*)

Editor : Siti Nur Qasanah
#kebun raya bogor #sejarah