JP Bogor – Gubernur Jabar Dedi Mulyadi tengah berupaya memperbaiki potret pendidikan di Jabar, agar lulusan sekolahnya menjadi lebih baik.
Salah satunya adalah memastikan semua SMA dan SMK negeri sederajat di Jabar tidak membuat pungutan.
“Saya punya tanggung jawab, semua sekolah SMA Negeri tidak boleh ada pungutan. Kalau ada pungutan, kepala sekolahnya diberhentikan,” kata Dedi seperti dikutip dari Radar Bogor, Kamis (19/6).
Meski demikian, Dedi tetap meminta ada imbal balik dari masyarakat, terutama orang tua murid agar ikut berpartisipasi dalam pendidikan.
Dedi pun mengultimatum para orang tua untuk ikut mendidik anak-anak mereka, tidak hanya menyerahkan sepenuhnya pada pihak sekolah.
Penegasan itu disampaikan agar negara yang sudah mengeluarkan banyak uang subsidi hingga triliunan rupiah demi pendidikan tidak berakhir sia-sia.
Jangan sampai pula siswa malah menjadi manja dan diberi uang jajan berlebihan, bahkan sampai Rp 30 ribu setiap hari supaya tidak malas sekolah.
"Sekolah itu gratis, (tapi) jajan Rp 30 ribu, lalu untuk apa? Karena yang mahal itu bukan biaya sekolahnya, tapi biaya jajannya. Ya ubah dong," ucapnya.
Saat ini, sebelum kebijakan makan bergizi gratis (MBG) berlaku, semua siswa di Jabar diwajibkan untuk membawa bekal dari rumah.
Sepulang sekolah, para siswa diminta berjalan kaki atau memakai sepeda, jika ada. Dedi tidak menyarankan, bahkan melarang siswa di bawah umur mengendarai sepeda motor ke sekolah.
“Belum 17 tahun jangan dulu pakai motor. Kenapa? Karena naik motor sepulang sekolah malah keluyuran, tidak langsung pulang ke rumah. Pergi ke mana-mana saja, ikut kelompok geng, berkelahi di jalan, ibunya jadi repot, motornya rusak, anaknya malah ditahan (polisi),” tegasnya.
Menurut mantan Bupati Purwakarta itu, masalah tersebut tentu membuat susah semua pihak. Rata-rata anak bermasalah biasanya datang dari keluarga dengan kondisi ekonomi kelas bawah.
Tak hanya itu, Dedi juga menyinggung soal aturan pekerjaan rumah (PR) bagi para siswa, yang akhirnya dihapuskan.
"PR-nya seperti apa? Ya PR-nya itu ayo di rumah cuci piring sendiri, PR itu mengepel sendiri, mengerjakan PR itu menyeterika sendiri, mengerjakan PR itu masuk ke dalam penilaian guru,” imbuh politikus Partai Gerindra itu.
Editor : Bayu Putra