Teras Bogor Viralpedia Wisata dan Kuliner Lifestyle

Pakuan Pajajaran: Menyusuri Jejak Sejarah Bogor Dahulu, Sang Maharaja di Tanah Hujan

Abdul Hamid Dhaifullah • Rabu, 28 Mei 2025 | 19:00 WIB

Prasasti batu tulis (Dok. Pinterest)
Prasasti batu tulis (Dok. Pinterest)
JP Bogor – Di balik hiruk-pikuk Kota Bogor yang kini dikenal sebagai pusat pertanian, penelitian, dan wisata, tersimpan jejak panjang sejarah yang telah mengakar ratusan tahun lalu. Bogor bukan hanya Kota Hujan, ia adalah saksi bisu kejayaan masa silam, saat menjadi pusat kerajaan Sunda dengan nama megah 'Pakuan Pajajaran.'

Nama 'Bogor' dan 'Pakuan Pajajaran' sering dipakai bergantian oleh masyarakat. Namun, apakah keduanya sama? Mengapa kota ini begitu lekat dengan cerita-cerita kerajaan dan istana raja? 

Untuk memahami sejarah Bogor, kita perlu menyelami lapis-lapis penafsiran dari berbagai abad, dari naskah kuno hingga riset modern, seperti yang dikutip dari laman resmi kotabogor.go.id.

Penjelasan pertama tentang nama Pakuan Pajajaran muncul dalam naskah Carita Waruga Guru (1750-an), yang menyebut keberadaan pohon Pakujajar di daerah tersebut sebagai asal nama "Pakuan Pajajaran". Versi ini didukung oleh peneliti Belanda, K.F. Holle (1869), yang menemukan pohon paku di sekitar Kampung Cipaku dekat Bogor. Ia menyimpulkan bahwa "Pakuan Pajajaran" berarti barisan pohon paku, sebuah penafsiran yang menekankan keunikan vegetasi lokal.

Namun, makna yang lebih simbolik muncul dari G.P. Rouffaer (1919), yang menafsirkan kata 'Pakuan' sebagai paku jagat atau pusat dunia, lambang dari seorang maharaja. Sementara 'Pajajaran' ia tafsirkan sebagai berdiri sejajar, sebuah pengakuan terhadap kebesaran Kerajaan Sunda yang dipandang setara dengan Majapahit.

Sejarawan Indonesia, R. Ng. Poerbatjaraka (1921), memberikan pendekatan filologis. Ia melacak akar kata 'Pakuan' ke bahasa Jawa Kuno, pakwwan atau pakwan, yang berarti kemah atau istana. Maka, 'Pakuan Pajajaran' adalah 'stana yang berjajar', istilah yang merujuk pada tata letak lima keraton utama (panca persada): Bima, Punta, Narayana, Madura, dan Suradipati. Masing-masing nama menandai kejayaan Sri Baduga Maharaja, atau yang dikenal juga sebagai Sanghiyang Sri Ratu Dewata.

Identitas Pakuan Pajajaran tidak hanya hadir dalam naskah, tetapi juga diukir abadi di Prasasti Batutulis, yang berdiri anggun di selatan Kota Bogor. Prasasti ini menyebut nama Sri Baduga Maharaja, raja besar Kerajaan Sunda yang bertahta di Pakuan.

H. Ten Dam (1957), dalam pendekatan sejarah dan geografi, mencermati bagaimana dua sungai besar, Ciliwung dan Cisadane, mengalir sejajar di sekitar Bogor. Inilah, menurutnya, asal mula nama "Pajajaran" merupakan artian sejajar secara topografi. Ia juga menekankan bahwa “Pakuan” bukan nama tempat, melainkan istilah umum untuk ibukota kerajaan.

Namun, narasi masyarakat sehari-hari lebih memilih kata 'dayeuh' sebagai sebutan untuk ibukota, sebagaimana dicatat oleh Tome Pires (1513) dalam Suma Oriental. Ini membedakan antara istilah sehari-hari (dayeuh) dan istilah sastra atau resmi (pakuan).

Nama 'Pakuan' dan 'Pajajaran' yang semula merujuk pada istana dan negara, lambat laun melekat sebagai identitas wilayah. Fenomena ini bukan hal asing dalam sejarah Nusantara seperti Surakarta Hadiningrat dan Ngayogyakarta Hadiningrat, yang kemudian menjadi nama kota dan provinsi.

Kini, masyarakat mengenal kota ini sebagai Bogor. Namun dalam memori kolektif orang Sunda dan dalam dokumen sejarah, Bogor adalah Pakuan, pusat kemegahan Kerajaan Sunda Pajajaran yang berdiri megah di tanah yang kini menjadi kebun raya, istana presiden, dan jalan-jalan bersejarah.

Editor : Candra Mega Sari
#kerajaan sunda #sejarah #bogor #Pakuan Pajajaran