Teras Bogor Viralpedia Wisata dan Kuliner Lifestyle

Siapa Sangka Jika Sekoteng Ternyata Bukan Minuman Tradisional Asli Indonesia, Ini Dia Sejarahnya!

Ghina Fadiah Rahma • Jumat, 16 Mei 2025 | 10:00 WIB
Sekoteng. (media.bakingworld.id)
Sekoteng. (media.bakingworld.id)

JP Bogor - Siapa yang tak mengenal sekoteng? Minuman hangat ini kerap dijajakan malam hari oleh pedagang keliling dengan gerobak khas dan aroma jahe yang menggoda.

Banyak orang mengira bahwa sekoteng adalah minuman tradisional asli Indonesia. Padahal, jika ditelusuri lebih dalam, sekoteng punya akar sejarah yang jauh lebih tua dan berasal dari negeri seberang: Tiongkok.

Konon, sekoteng berasal dari tradisi minum herbal hangat di kalangan masyarakat Tiongkok kuno. Minuman ini awalnya terdiri dari berbagai bahan bernutrisi seperti kacang, biji-bijian, dan buah-buahan kering, yang direbus bersama jahe untuk menghasilkan ramuan penambah daya tahan tubuh. Masyarakat Tiongkok mempercayai bahwa minuman ini mampu menghangatkan tubuh saat musim dingin dan menjaga energi dalam tubuh tetap seimbang.

Nama "sekoteng" sendiri diduga berasal dari pelafalan lokal atas istilah dalam dialek Tionghoa, yang menyebut minuman ini sebagai sup manis berisi empat elemen utama. Seiring waktu, sebutan tersebut disesuaikan dengan logat lidah orang Indonesia, hingga akhirnya kita mengenalnya dengan nama "sekoteng"

Masuknya sekoteng ke tanah Jawa kemungkinan besar terjadi melalui jalur perdagangan dan migrasi para perantau Tionghoa di masa lampau. Mereka membawa serta budaya, makanan, dan resep-resep herbal yang telah diwariskan turun-temurun. Di Indonesia, minuman ini kemudian mengalami adaptasi dari segi bahan dan rasa, menyesuaikan dengan ketersediaan bahan lokal dan selera masyarakat setempat.

Jika di negeri asalnya sekoteng lebih banyak menggunakan bahan seperti biji teratai, lengkeng kering, dan kacang almond, maka versi Indonesia menggantinya dengan kacang tanah, potongan roti tawar, dan pacar cina berwarna-warni. Jahe tetap menjadi bahan utama, namun rasa manisnya biasanya dihasilkan dari gula pasir atau gula batu.

Yang membuat sekoteng begitu khas adalah pengalaman meminumnya. Kehangatan kuah jahe berpadu dengan tekstur berbagai isian yang unik membuat minuman ini tidak hanya menyenangkan di lidah, tetapi juga menghadirkan nostalgia dan rasa nyaman. Tak heran jika sekoteng sering diasosiasikan dengan suasana malam yang tenang dan akrab.

Menariknya, sekoteng juga mencerminkan proses akulturasi budaya yang sangat halus. Tanpa disadari, banyak hidangan yang kita anggap "asli Indonesia" ternyata merupakan hasil adaptasi dari budaya lain yang telah menyatu begitu dalam dalam kehidupan masyarakat lokal. Sekoteng adalah contoh nyata bahwa warisan kuliner tak mengenal batas negara, melainkan terus berkembang sesuai dengan konteks tempat dan zaman.

Di berbagai kota di Indonesia, sekoteng memiliki versi yang berbeda. Beberapa menambahkan susu, lainnya menyajikannya dingin. Namun esensinya tetap sama: sebuah minuman yang menenangkan, menyegarkan, dan mengandung nilai sejarah serta budaya yang kaya.

Kini, sekoteng bukan hanya dijual oleh pedagang keliling. Ia telah masuk ke kafe modern dan pasar daring dalam bentuk instan. Namun tak peduli bagaimana cara penyajiannya, sekoteng akan selalu menjadi pengingat bahwa kuliner bukan hanya soal rasa, tetapi juga tentang cerita dan perjalanan panjang yang membentuknya.

Jadi, saat kamu menyeruput sekoteng hangat di malam hari, ingatlah jika kamu sedang menikmati bukan sekadar minuman, tapi juga sepotong sejarah lintas budaya yang telah hidup selama berabad-abad. (*)

Editor : Siti Nur Qasanah
#indonesia #tiongkok #Minuman Tradisional #sekoteng