Rencananya, program ini akan diterapkan di beberapa wilayah Jawa Barat, dan Kota Bogor saat ini sedang mempersiapkan segala keperluan, termasuk lokasi pelaksanaannya.
Dandim 0606 Kota Bogor, Letkol Inf. Dwi Agung Prihanto menyatakan bahwa Kota Bogor sendiri sudah memiliki dua tempat yang potensial untuk berjalannya program ini karena memiliki satuan tempur dan fasilitas barak yaitu Pusat Pendidikan Zeni (Pusdikzi) dan Yonif 315 Gunung Batu.
Program pendisiplinan anak yang dianggap nakal ini adalah program militer untuk mereka anak-anak yang memiliki inisiatif untuk bergabung atau mereka yang memang dikirim oleh orang tuanya untuk mengikuti program ini, sehingga program ini tidak akan menjemput atau mengambil anak-anak yang nakal tadi.
Wali Kota Bogor, Dedie A Rachim, meminta pihak Pemerintah Provinsi (Pemprov) Bogor untuk memberikan kategori mengenai anak nakal yang akan dikirim ke barak militer ini.
Program yang menuai kritik ini ditentang oleh salah satu akademisi UMS (Universitas Muhammadiyah Surabaya) yaitu Radius Setiyawan, program ini dianggap tidak sesuai dengan paradigma pendidikan karena memiliki potensi timbulnya efek buruk pada perkembangan anak-anak.
Dilansir dari Radar Bogor, program ini akan dimulai pada Juni mendatang atau setelah program pendidikan bela negara selesai. Program pendidikan bela negara sendiri adalah pendidikan kedisplinan untuk anak-anak Jawa Barat di Jawa Barat.
Gubernur Jawa Barat yang kerap disapa Kang Dedi Mulyadi ini sebelumnya pernah menjabarkan kategori untuk anak-anak yang akan mendapat pembinaan di barak militer melalui video yang ia posting di Instagram @dedimulyadi71.
Pada video itu, Gubernur menyatakan jika murid sekolah yang akan dibina di barak militer adalah mereka yang terlibat dalam kenakalan remaja. Namun ini tidak hanya untuk anak-anak yang nakal saja, tapi juga bisa untuk orang dewasa yang sering mabuk-mabukan dan preman yang memalak hingga menganggu pedagang atau pengusaha yang sedang berkembang atau menganggu investasi.
Editor : Candra Mega Sari