Kelahiran IPB bermula dari didirikannya Faculteit van Landbouwwetenschap (Fakultas Ilmu Pertanian) di Bogor pada masa Hindia Belanda. Upaya ini bukan tanpa perjuangan, banyak tokoh di Volksraad seperti Dr. Abdul Rivai memperjuangkan pendirian pendidikan tinggi pertanian demi kedaulatan pangan bangsa. Bahkan, Presiden Soekarno pernah menyatakan pada 27 April 1952 saat peletakan batu pertama gedung Fakultas Pertanian UI di Baranangsiang, bahwa persoalan pangan adalah "soal hidup atau mati" bagi Indonesia.
Semangat kemandirian itu akhirnya mewujud ketika IPB resmi berdiri melalui Keputusan Menteri PTIP No. 91 Tahun 1963 dan disahkan lewat Keputusan Presiden RI No. 279 Tahun 1965. Saat itu, IPB berdiri dengan enam fakultas awal: Pertanian, Kedokteran Hewan, Perikanan, Peternakan, Kehutanan, serta Teknologi dan Mekanisasi Pertanian.
Tak hanya berdiri sebagai institusi akademik, IPB sedari awal mengemban misi untuk melayani bangsa. Pada 1963, action research di Karawang menjadi titik awal kontribusi IPB dalam mendorong swasembada beras nasional. Model pengabdian masyarakat berbasis riset ini terus berkembang dan menjadi bagian integral dari tridharma perguruan tinggi.
Seiring waktu, IPB terus memperluas kiprahnya. Pada 1976, IPB menggagas sistem seleksi masuk mahasiswa berbasis undangan dari sekolah-sekolah berprestasi, dengan prinsip membuka akses pendidikan bermutu secara lebih luas. Sistem ini kemudian diadopsi secara nasional pada tahun 2011.
Hari ini, IPB telah berkembang menjadi universitas riset berbasis pertanian, biosains, dan tropika yang diakui dunia. Dengan 9 fakultas, 36 departemen, 21 pusat studi, dan 159 program studi, IPB melayani pendidikan dari program diploma, sarjana, hingga pascasarjana.
Tak hanya itu, pada tahun 2017, IPB meraih akreditasi A (Sangat Baik) dari Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT). Ini mempertegas posisinya sebagai salah satu kampus terbaik di Indonesia.
Di bawah kepemimpinan Rektor Prof. Dr. Arif Satria, S.P., M.Si., IPB terus menegaskan komitmennya dalam membangun generasi baru, generasi yang menguasai kompleksitas, berpikir sistematis, peduli pada lingkungan, dan tetap setia pada misi membangun pertanian serta kemanusiaan.
Editor : Candra Mega Sari