Teras Bogor Viralpedia Wisata dan Kuliner Lifestyle

Menelusuri Jejak Sejarah Puncak Bogor: Dari Tanah Pelarian Wabah hingga Destinasi Favorit Para Bangsawan

Abdul Hamid Dhaifullah • Jumat, 18 April 2025 | 19:00 WIB
Suasana kebun teh di Puncak, Bogor. (pinterest.com)
Suasana kebun teh di Puncak, Bogor. (pinterest.com)

JP Bogor – Udara sejuk, hamparan kebun teh, dan panorama pegunungan menjadikan Puncak Bogor sebagai tempat pelesiran yang tak lekang oleh waktu. Namun, di balik keindahan alamnya, kawasan ini menyimpan jejak sejarah panjang yang bermula bukan dari pariwisata, melainkan dari wabah mematikan.

Sejarah Puncak dimulai sekitar tahun 1730-an saat Batavia dilanda wabah penyakit yang sangat misterius dan mematikan. Penyakit ini dikenal sebagai "mati mendadak" atau "demam maut" yang kini diyakini sebagai malaria. Kota menjadi pengap, bau, dan penuh kematian. Rumah sakit tak ubahnya liang kubur.

Dalam suasana genting itu, Gubernur Jenderal Hindia Belanda Gustaaf Willem Baron van Imhoff (menjabat 1743–1750) mengambil keputusan strategis dengan mencari tempat pelarian ke daerah yang lebih tinggi dan sejuk, yang diharapkan terbebas dari penyakit mematikan tersebut.

Van Imhoff pun menetapkan kawasan Kampung Baru, sekarang Bogor, sebagai tempat pembangunan rumah peristirahatan pada tahun 1745. Tempat ini kelak berkembang menjadi Istana Bogor, dan dari sinilah benih kawasan Puncak mulai dikenal dan dikembangkan.

Saat pertama kali ditemukan, Puncak masih berupa hutan belantara yang sunyi. Van Imhoff membuka lahan untuk bertani dan membangun fasilitas kesehatan bergaya Eropa, termasuk tempat spa dan pemandian air panas. Di lereng Gunung Megamendung itu, ia juga menanam berbagai tanaman obat dan pohon teh, mengadopsi praktik penyembuhan dari kampung halamannya di Jerman.

Dalam perkembangannya, kawasan ini menjadi semacam "zona karantina alami" bagi elit kolonial, jauh dari hiruk-pikuk dan penyakit kota. Perlahan, Puncak menjelma menjadi tempat peristirahatan favorit bagi kaum bangsawan dan pejabat tinggi Hindia Belanda.

Untuk mempermudah pengelolaan wilayah, Van Imhoff kemudian menyatukan sembilan distrik sekitar saat itu, Cisarua, Ciawi, Ciomas, Cijeruk, Pondok Gede, Sindang Barang, Balubur, Dramaga, dan Kampung Baru, ke dalam satu wilayah administratif bernama Regentschap Kampung Baru Buitenzorg.

Dalam waktu singkat, kawasan ini berkembang pesat, tak hanya sebagai tempat pengasingan, tetapi juga pusat pertanian dan pemukiman.

Seiring berjalannya waktu, kawasan Puncak tidak hanya dikenal sebagai tempat istirahat, tetapi juga sebagai pusat penelitian tropis. Pada awal abad ke-19, Raja Willem I dari Belanda mengirim ahli botani untuk menjajaki potensi pertanian di Hindia Belanda. Rumah peristirahatan van Imhoff di Bogor dijadikan markas besar penelitian ini.

Hasil dari misi tersebut adalah berdirinya Kebun Raya Bogor pada tahun 1817, dan tidak lama kemudian, kawasan Puncak kembali mendapatkan perhatian ketika Kebun Raya Cibodas didirikan. Di sini, tanaman kina, obat alami untuk malaria, berhasil ditanam, dan menjadi tonggak keberhasilan riset kesehatan tropis Hindia Belanda.

Pembangunan Jalan Raya Pos oleh Gubernur Jenderal Daendels (1808–1811) juga berperan besar membuka akses menuju Puncak dan mempercepat pengembangannya.

Memasuki awal abad ke-20, Puncak telah dikenal luas sebagai tempat wisata elit. Tahun 1901, pemerintah kolonial mulai memasarkan paket wisata ke Puncak, yang saat itu disebut sebagai daerah "Buitenzorg Atas". Hotel dan restoran mulai bermunculan.

Pada tahun 1910, perkebunan teh komersial mulai berdiri. Pada saat yang sama, restoran dan penginapan untuk kalangan atas turut dibangun. Bahkan kompleks pelacuran kolonial pun sempat menjadi bagian dari infrastruktur wisata Puncak di masa itu.

Setelah kemerdekaan Indonesia, kawasan Puncak tetap menjadi primadona. Perkebunan teh dikelola oleh negara melalui PT Perkebunan Nusantara VIII, dan wisata alam terus dikembangkan.

Presiden Soekarno bahkan turut memperkuat citra Puncak sebagai tempat elite dengan membangun Restoran Riung Gunung untuk menikmati panorama hijau dari ketinggian.

Saat ini, wilayah yang disebut sebagai Puncak mencakup beberapa kecamatan, antara lain Ciawi, Cisarua, Megamendung, Cigombong, Sukaraja di Kabupaten Bogor serta Cipanas dan Pacet di Kabupaten Cianjur.

(*)

Editor : Siti Nur Qasanah
#wabah #bogor #puncak #Jejak Sejarah