JP Bogor – Menyusuri hiruk pikuk kesibukan Jalan Suryakencana, para pejalan kaki akan mengirup aroma gurih kacang dan jejak sejarah kuliner satu sajian khas Kota Bogor, cungkring. Kuliner kaki lima yang satu ini bukan hanya menggugah selera, tapi juga menyimpan kisah panjang yang menjadikannya sebagai bagian tak terpisahkan dari identitas gastronomi Kota Hujan.
Cungkring adalah perpaduan sederhana namun unik dari bibir sapi (cungur), otot kaki sapi, lontong, dan tempe goreng kering, seperti yang dikutipd dari traveloka.com. Disajikan hangat dan disiram bumbu kacang yang manis dan gurih, makanan ini telah menemani pagi warga Bogor sejak dekade 70-an. Nama cungkring sendiri merupakan akronim dari bahan utama pembuatnya, yaitu "cungur" dan "kaki garingan".
Berdasarkan informasi yang tersaji di situs antaranews.com, kuliner ini pertama kali populer lewat tangan seorang penjual bernama Pak Jumat. Ia mulai berjualan cungkring secara berkeliling menggunakan panggulan pada tahun 1975. Seiring waktu, pelanggan Pak Jumat semakin banyak. Alhasil, pada tahun 2004, Pak Jumat memutuskan untuk menetap di kawasan Jalan Suryakencana, yang kini dikenal sebagai pusat kuliner legendaris Bogor.
Tak heran jika hingga kini, cungkring Pak Jumat menjadi ikon dan destinasi wajib bagi para pencinta kuliner tradisional. Deden, generasi penerus dari Pak Jumat, masih melanjutkan warisan keluarganya dengan menjual cungkring di lokasi yang sama.
Menurut Deden, seperti dikutip oleh antaranews.com, kunci kenikmatan cungkring terletak pada racikan bumbu kacang khas yang diwariskan turun-temurun. Ia juga mengingatkan para pecinta kuliner agar jeli saat membeli, karena kini banyak pedagang baru yang menggunakan bahan pengganti seperti kikil atau kulit sapi, bukan cungur dan otot kaki asli.
Cungkring biasanya disantap saat pagi hari, sebagai menu sarapan yang lezat dan mengenyangkan. Disajikan dengan potongan lontong, tempe goreng renyah, dan sambal kacang yang pekat, makanan ini memberikan sensasi tekstur yang menarik, kenyal dari bibir dan kaki sapi, lembut dari lontong, serta renyah gurih dari tempe.
Kini, cungkring tak lagi hanya milik Jalan Suryakencana. Banyak penjaja makanan lainnya mengikuti jejak Pak Jumat dan membuka lapak di berbagai penjuru Bogor, bahkan sampai ke luar kota. Meski demikian, banyak yang masih menganggap bahwa rasa autentik cungkring hanya bisa didapat dari tangan-tangan generasi awal seperti keluarga Pak Jumat.
(*)
Editor : Siti Nur Qasanah