JP Bogor – Para penggemar serial Spongebob Squarepants pasti udah tidak asing lagi dengan istilah Rock Bottom yang digunakan di dalam salah satu episode serial tersebut.
Rock Bottom merupakan sebuah kota yang dihuni oleh makhluk-makhluk aneh yang bisa dilihat dari cara mereka berinteraksi. Seperti cara berbicaranya yang menggunakan bahasa tak biasa dan sering memercikkan air liur saat berbicara.
Di dalam dunia nyata, ternyata istilah Rock Bottom juga digunakan netizen untuk menggambarkan salah satu stasiun di rute KRL Jakarta Kota–Bogor, yakni Stasiun Nambo. Salah satunya adalah akun Instagram @jalurnambo.
Awalnya, Stasiun Nambo yang dibangun pada tahun 1990 difungsikan sebagai stasiun untuk kereta pengangkut barang.
Pembangunan stasiun ini masuk dalam rencana jalur lingkar luar Jabodetabek yang menghubungkan Sungai Lagoa hingga Parung Panjang melalui Jonggol dan Cikarang.
Rencana tersebut mirip seperti konsep jalur Musashino yang ada di Tokyo, Jepang. Di mana alur kereta barang tidak melewati ibukota. Namun, rencana tersebut harus ditunda akibat krisis ekonomi yang melanda pada tahun 1997.
Barulah pada 1 April 2015, PT KAI Commuter Jabodetabek mengoperasikan kembali Stasiun Nambo sebagai bagian dari rangkaian rute Commuter Line Jakarta Kota-Bogor.
Lalu mengapa ya, banyak netizen yang menyebut bahwa Stasiun Nambo merupakan Rock Bottom yang ada di dunia nyata? Berikut beberapa alasannya.
- Lokasi yang berada di ujung dan tersembunyi
Dalam salah satu episode Spongebob Squarepants, diceritakan bahwa Spongebob dan teman setianya Patrick salah menaiki bus yang membuat mereka nyasar dan terjebak di sebuah kota aneh bernama Rock Bottom.
Rock Bottom digambarkan sebagai sebuah kota suasana suram dan letaknya yang terisolasi. Hal itu cocok dengan profil Stasiun Nambo yang terletak paling ujung Timur jalur kereta Kabupaten Bogor. tepatnya di Jalan Raya Nambo, Desa Bantar Jati, Klapanunggal.
Untuk menuju stasiun ini, pengguna KRL harus naik kereta menuju Stasiun Citayam, kemudian pindah ke kereta yang menuju tujuan akhir Stasiun Nambo. Atau bisa juga meenaiki kereta yang memang tujuan akhirnya menuju Stasiun Nambo.
Dalam rute menuju Stasiun Nambo terdapat dua stasiun yang akan dilewati, yakni Stasiun Pondok Rajeg dan Cibinong.
- Headway kereta yang sangat lama
Jadwal keberangkatan dan kedatangan kereta di Stasiun Nambo masing masing hanya ada 12 kali dalam satu hari. Selain itu, jarak waktu antara satu jadwal dengan jadwal berikutnya cukup lama, yakni 1-2 jam.
Kondisi ini berbanding terbalik dengan rute Commuter Line lain yang biasanya memiliki headway atau waktu tunggu kereta hanya 10 – 30 menit saja.
Kondisi ini mirip seperti yang terjadi saat Spongebob terjebak di Rock Bottom. Saat itu, Spongebob sedang menunggu bis yang menuju Bikini Bottom. Namun, bis yang transit melewati Rock Bottom ternyata sangat jarang sekali.
Ketika ada bis yang berhenti di Rock Bottom, bis tersebut hanya berhenti sangat sebentar dan membuat Spongebob selalu ketinggalan bis.
Hal itu sama persis dengan apa yang terjadi di Stasiun Nambo. Di mana kereta di stasiun ini hanya berhenti sebentar dan tidak sebanding dengan waktu tunggunya.
- Suasana stasiun yang sepi
Stasiun Nambo memiliki letak yang tersembunyi di antara pabrik semen Tiga Roda milik PT Indocement Tunggal Perkasa. Lokasinya yang berada di area industri membuat stasiun ini tidak seaktif stasiun lainnya di berada di area perkantoran dan institusi pendidikan.
Dilansir dari laman commuterline.id, per Oktober 2024 lalu, jumlah penumpang harian rata-rata di Stasiun Nambo hanya 2.759 orang. Terdiri dari 1.357 penumpang yang naik dari Stasiun Nambo dan 1.402 penumpang turun di Stasiun Nambo.
Bila dibagi masing-masing 12 perjalanan, maka dalam sekali jalan rata-rata hanya ada 113 penumpang yang naik dan 117 penumpang turun di stasiun ini.
Tidak heran jika suasana lingkungan di sekitar Stasiun Nambo sering terlihat sunyi. Suasana tersebut akan memberikan kesan asing dan terpencil, seperti sedang berada di Rock Bottom.
Editor : Bayu Putra