Seperti halnya budaya yang ada di Indonesia, jenis-jenis wayang di Nusantara memiliki keberagaman dan ciri khas di masing-masing daerah. Bentuk keberagaman dan ciri khas wayang bisa berupa bahan pembuatan, ataupun cerita yang dibawakan pada pertunjukkan wayang. Salah satu diantaranya adalah wayang bambu yang berasal dari Bogor, lebih tepatnya berasal dari wilayah Kampung Cijahe, Kelurahan Curugmekar, Kecamatan Bogor, Kota Bogor.
Seperti namanya, wayang bambu terbuat dari tanaman bambu yang mengambil bagiannya, yaitu ati bambu atau batang bambu bagian dalam. Setelah bagian dari tanaman bambu diambil, bambu kemudian dianyam hingga berbentuk anggota tubuh wayang.
Tidak lupa perhiasan dibuat untuk memperindah wayang menggunakan kertas, manik-manik, dan kain untuk membuat pakaian bagi sang wayang.
Baca Juga: Mengenal Wayang Golek, Seni Pertunjukan Tradisi Sunda yang Kerap Menjadi Bagian dari Perayaan di Kabupaten Bogor
Berbeda dengan wayang pada umumnya, wayang bambu tidak diwarnai karena berbagai alasan. Alasan pertama adalah agar tidak menghilangkan nilai estetika dari bambu yang ada pada wayang, alasan kedua adalah agar watak dari sang wayang dapat dimainkan sebebas mungkin oleh sang dalang, alasan ketiga adalah agar penonton berimajinasi sebebas mungkin mengenai karikatur dari sang wayang.
Dalam pertunjukkan wayang bambu, tidak lupa disertai alunan musik yang bersumber dari permainan alat musik tradisional budaya Sunda, seperti gamelan, suling, angklung, karinding, kecemplung, dan lain sebagainya.
Keunikan pun datang dari segi cerita yang dibawakan pada pertunjukkan wayang bambu yang mana cerita diusung mengambil cerita dari tanah pasundan seperti kisah Prabu Siliwangi ataupun kisah kesultanan setelah ajaran Islam masuk ke wilayah Jawa Barat. Cerita dari petunjukkan wayang bambu juga mengambil dari masalah kehidupan yang ada di zaman modern ini seperti: narkoba, seks bebas, perjudian, dan masih banyak lagi.
Penggagas dari pembuatan wayang bambu ialah Ki Drajat Sunandar yang mengembangkan wayang bambu sekitar awal tahun 2000-an.
Editor : Candra Mega Sari