Mengenal Motif Batik Kawung dari Jawa: Warisan Leluhur yang Simbolkan Keharmonisan, Keseimbangan dan Kesempurnaan Hidup
Faiza Az Zahra• Minggu, 10 November 2024 | 22:59 WIB
Motif batik kawung
JP Bogor - Karya batik merupakan perpaduan antara seni motif dengan seni warna yang proses pembuatannya meliputi pencelupan, penggambaran, pengeringan, dan sebagainya. Keunikan proses pembuatannya menjadikan batik sebagai golongan kekayaan budaya Indonesia yang diwariskan oleh nenek moyang dan diakui oleh UNESCO.
Diketahui, setiap daerah di Indonesia memiliki ciri dan khas motif batik masing-masing. Salah satu motif batik yang populer di Jawa adalah motif batik kawung yang bentuknya seperti irisan dari buah yang berbentuk lonjong.
Sejarah Batik Kawung
Motif batik kawung diperkirakan lahir sejak abad ke-16 dan biasa dikenal dengan sebutan motif "kacang" atau "ceplok", terinspirasi dari buah kawung (Arenga Pinnata) yang tumbuh di Jawa dan punya empat lekukan seperti mata. Motif batik ini memiliki sejarah yang berhubungan dengan berbagai kerajaan di Jawa. Motif batik ini diyakini sebagai simbol status dan kekuasaan, sehingga dulu para bangsawan dan keluarga kerajaan banyak mengenakan batik dengan motif kawung sebagai pakaian adat.
Di era kerajaan Mataram, batik dengan motif kawung juga seringkali digunakan sebagai dekorasi rumah, upacara adat, seni pertunjukan, dan perhiasan oleh para raja dan bangsawan. Lalu, setelah kerajaan ini terbagi menjadi dua kerajaan yakni, kerajaan Surakarta dan Yogyakarta, motif batik kawung ditetapkan sebagai motif yang penting dan dijadikan sebagai warisan yang terus berkembang dan melahirkan ragam ragam produk fesyen. Seperti tas, kemeja, sepatu, dress, aksesoris, dekorasi rumah, dan produk lainnya.
Makna Motif Batik Kawung
Secara mendalam, bentuk motif batik kawung yang bulat dan simetris diyakini sebagai simbol keharmonisan, keseimbangan, dan kesempurnaan. Terdapat empat lekukan yang mirip seperti mata, dipercaya sebagai simbol empat penjuru dunia atau "Catur Buana" yang meliputi arah Utara, Selatan, Barat, dan Timur.
Motif batik kawung juga erat kaitannya dengan empat kewajiban manusia atau "Catur Dharma", yakni Dharma Praja (kewajiban sebagai warga negara), Dharma Putra (Kewajiban sebagai anak), Dharma Suami (Kewajiban sebagai Suami), dan Dharma Istri (Kewajiban sebagai istri).
Selain itu, motif ini juga dimaknai sebagai empat sifat utama manusia, yakni Dharma (kebenaran dan kebaikan), Artha (kekayaan dan kesejahteraan), Kama (keinginan cinta), dan Moksa (ketenangan dan pembebasan).
Motif batik kawung sangat diminati oleh masyarakat karena keindahan geometris, warna, corak, serta filosofi yang mendalam. Batik ini memiliki ragam jenis, berikut daftarnya:
Kawung Kenari
Kawung Seling
Kawung Kembang
Kawung Buntal
Kawung Semar
Kawung Sekar agung
Kawung Kopi atau Sari
Kawung Geger
Kawung Cacah Gori
Kawung Beton
Kawung Kemplong
Kawung Sen
Kawung Bribil atau Gridil
Kawung Picis
Kawung Ngulit
Kawung Geni
Kawung Cengkir
Kawung Sogan
Teknik pembuatan Batik Kawung
Agar menghasilkan nilai estetika yang tinggi, batik kawung dapat dihasilkan dengan menggunakan dua teknik yakni dengan cara tulis atau cap. Teknik tulis dapat diterapkan dengan menggambar secara manual menggunakan canting yang dilengkapi dengan tabung kecil untuk meneteskan lilin cair. Untuk teknik cap, digunakan cap yang terbuat dari tembaga atau kayu yang dicelupkan ke dalam lilin cair. Lalu, ditekan kepada kain.