Teras Bogor Viralpedia Wisata dan Kuliner Lifestyle

Kini Melesat 63 Tingkat di Ranking Universitas Terbaik versi QS WUR 2025, Begini Sejarah Panjang Berdirinya IPB

Yudha Satria Palma • Jumat, 1 November 2024 | 15:09 WIB
Gedung IPB pada masa Hindia Belanda dan masih bernama Landbouwhoogeschool
Gedung IPB pada masa Hindia Belanda dan masih bernama Landbouwhoogeschool

JP Bogor - Institut Pertanian Bogor (IPB) atau IPB University merupakan salah satu kampus terbaik di Indonesia yang sudah terakreditasi A oleh BAN-PT.

Pada tahun 2020, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menetapkan IPB sebagai kampus terbaik nomor 1 se-Indonesia. Sementara itu, menurut ranking di QS World University Ranking (WUR) 2025, IPB berada di posisi ke-426 dunia. Pencapaian ini menunjukkan peningkatan dibandingkan tahun sebelumnya, di mana IPB berada di peringkat 489 dunia.

Kampus utama IPB terletak di Jl. Raya Dramaga, Babakan, Dramaga, Kabupaten Bogor. Tidak hanya kampus utama, IPB juga memiliki beberapa kampus lain yang menjadi tempat perkuliahan, seperti kampus IPB Gunung Gede, kampus IPB Cilibende, kampus IPB Dramaga, kampus IPB Taman Kencana, dan kampus IPB Baranangsiang.

Sebelum menjadi salah satu perguruan tinggi terbaik di Indonesia, IPB dahulunya merupakan sebuah Fakultas Pertanian yang ada di Universitas Indonesia. Lantas, bagaimana sejarahnya?

Sejarah IPB

Pada saat Indonesia masih dijajah Belanda dan bernama Hindia-Belanda, rencana untuk mendirikan sebuah lembaga pendidikan tinggi pertanian dan kehutanan, serta dokter hewan sudah dicanangkan sejak tahun 1918.

Rencana itu dijadikan sebagai salah satu agenda sidang di parlemen Hindia-Belanda yang bernama volkstraad. Namun, ketika sidang berlansung terjadi perdebatan sengit antara anggota volkstraad dan Pemerintah Hindia-Belanda. Sebab, Pemerintah Hindia Belanda cenderung ingin menunda pendirian perguruan tinggi di Hindia-Belanda.

Tidak menyerah begitu saja, beberapa anggota volkstraad terus memaksa Pemerintah Hindia-Bealnda untuk mendirikan sebuah perguruan tinggi, salah satunya adalah Landbouwhoogescholl 'Sekolah Tinggi Pertanian'.

Hingga periode tahun 1930-an, pembangunan perguruan tinggi di Hindia-Belanda tidak kunjung dilakukan. Usut punya usut, penyebabnya adalah karena di Wageningen, Belanda juga terdapat perguruan tinggi terbaik dan terkenal untuk bidang Pengetahuan Ilmu Pertanian Tropika bernama Landbouwhoogeschool.

Atas dasar itulah, Pemerintah Hindia-Belanda tidak ingin Landbouwhoogeschool di Wageningen tersaingi dan menjadi rugi, apalagi hingga ditutup. Selain itu, terdapat sebuah anggapan bahwa lulusan Landbouwhoogeschool di Hindia-Belanda akan lebih diuntungkan jika memilih tempat pekerjaan di perkebunan-perkebunan Hindia-Belanda.

Ketika Perang Dunia 2 berlangsung dan Jerman berhasil menduduki wilayah Belanda, para siswa Hindia-Belanda tidak lagi bisa melanjutkan studinya di Belanda. Hal ini membangkitkan semangat Pemerintah Hindia-Belanda untuk segera mendirikan Sekolah Tinggi Pertanian di wilayahnya.

Akhirnya upaya ini membuahkan hasil, perkuliahan tingkat persiapan pertanian, atau landbouwkundige propaedeuse dimulai pada 1 September 1940. Program ini dipersiapkan untuk pembukaan Fakultas Ilmu Pengetahuan Pertanian atau Faculteit van Landbouwwetenschap.

Pada tanggal 1 September 1940, sekolah tinggi ilmu pertanian tersebut mulai dibangun di Bogor yang dulu bernama Buitenzorg. Terjadi sebuah perdebatan sebelum Bogor diputuskan menjadi lokasi pendiriannya.

Baca Juga: Rekomendasi Rumah Kos Nyaman dan Aman Dekat Dengan Kampus Universitas Pakuan Bogor

Setelah melalui berbagai pertimbangan, Buitenzorg atau Bogor akhirnya dipilih karena kota ini sudah memiliki sembilan lembaga ilmiah terkait pertanian dan sekitar 100 ilmuwan yang dapat mendukung pendirian sekolah tinggi pertanian tersebut.

Singkat cerita, dua hari setelah kemerdekaan Indonesia diproklamasikan pada 17 Agustus 1945, para akademisi di Jakarta mendirikan Balai Perguruan Tinggi Republik Indonesia (BPTRI) pada 19 Agustus 1945. Namun seperti yang diketahui, Belanda kembali datang ke Indonesia dan berusaha kembali menjajah Indonesia.

Salah usaha yang dilakukannya adalah dengan mendirikan Nood-Universiteit (Universitas Darurat), yang salah satu fakultasnya adalah Fakultas Pertanian. Universitas ini kemudian berganti nama menjadi Universiteit van Indonesië pada 1947, dan menambah empat fakultas baru, termasuk Fakultas Kedokteran Hewan.

Pada 1948, kegiatan perkuliahan Fakultas Pertanian dan Fakultas Kedokteran Hewan dipusatkan di van Imhoffplein 1 (kini Taman Kencana) dan di rumah di Jalan Pangrango No. 2, Bogor.

Setelah kemerdekaan Indonesia diakui oleh Pemerintah Belanda pada Konferensi Meja Bundar (KMB) tahun 1949, semua aset Belanda, termasuk Universiteit van Indonesië, diserahkan kepada Negara Republik Indonesia Serikat (RIS).

Kemudian, Universiteit van Indonesië dan BPTRI digabungkan menjadi Universiteit Indonesia. Pada 27 April 1952, pembangunan gedung Fakultas Pertanian di Baranangsiang dimulai yang ditandai dengan peletakan batu pertama secara simbolis. Pada kesempatan itu, Presiden pertama Indonesia kala itu Soekarno memberikan pidato yang tentang hidup atau mati bangsa Indonesia yang sangat bergantung pada pertanian.

Dalam pidatonya, Soekarno menantang fakultas pertanian tersebut untuk membuat sebuah upaya peningkatan produksi pangan untuk memenuhi kebutuhan pangan Indonesia. Untuk merespon hal tersebut, akhirnya pada tahun 1965 dilakukan action research untuk mengembangkan penyuluhan pertanian dalam meningkatkan produksi padi mulai dijalankan dalam bentuk proyek percontohan.

Proyek ini dilakukan di lahan seluas 100 hektare di Kabupaten Karawang. Keberhasilan proyek percontohan ini membuat kegiatan tersebut diperluas menjadi skala yang lebih besar, disebut demonstrasi massal. Pada tahun 1965, program ini kemudian diresmikan dengan nama "Bimbingan Massal."

Pada 12 Maret 1962, Prof. Toyib Hadiwijaya, yang saat itu menjabat sebagai Menteri Perguruan Tinggi dan Ilmu Pengetahuan Indonesia, mengusulkan pemisahan Fakultas Pertanian dan Fakultas Kedokteran Hewan dari Universitas Indonesia

Selain itu, ia juga ingin melakukan pengelompokan departemen-departemen yang ada menjadi fakultas yang tergabung dalam perguruan tinggi baru yang bernama Institut Pertanian di Bogor (IPB).

Usulan ini kemudian disahkan melalui Keputusan Menteri PTIP No. 91 Tahun 1963 pada 1 Agustus 1963 yang menetapkan berdirinya IPB sejak 1 September 1963. Pengesahan IPB sebagai institusi perguruan tinggi negara dipertegas dengan Keputusan Presiden RI No. 279 Tahun 1965, yang menyatakan bahwa IPB terdiri atas enam fakultas.

Enam fakultas itu diantaranya, Fakultas Pertanian, Fakultas Kedokteran Hewan, Fakultas Perikanan, Fakultas Peternakan, Fakultas Kehutanan, dan Fakultas Teknologi dan Mekanisasi Pertanian. Jumlah tersebut terus bertambah hingga kini menjadi 9 fakultas dengan tambahan 3 fakultas di antaranya, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Fakultas Ekonomi dan Manajemen, dan Fakultas Ekologi Manusia.

Editor : Candra Mega Sari
#sejarah #ipb #institut pertanian bogor