JP Bogor - Dalam beberapa tahun terakhir, pesta gender reveal menjadi tren yang ramai di kalangan calon orang tua. Acara ini biasanya digelar untuk mengungkap jenis kelamin bayi yang sedang dikandung, dengan cara yang seru dan penuh kejutan. Mulai dari balon berisi confetti berwarna biru atau pink, hingga kue dengan isi warna tertentu, kreativitas dalam menyampaikan "surprise" ini seolah tak ada habisnya.
Pesta ini pertama kali populer di Amerika Serikat sekitar tahun 2008, dan menyebar ke berbagai belahan dunia melalui media sosial. Tak jarang, momen gender reveal diabadikan dalam video dan diunggah ke TikTok atau Instagram, menjadikannya bagian dari konten yang mengundang like, komentar, dan views. Namun, dibalik kemeriahan dan keseruan tersebut, muncul pertanyaan penting, apakah pesta gender reveal benar-benar perlu dilakukan?
Bagi sebagian orang, pesta gender reveal adalah cara untuk merayakan kebahagiaan dan berbagi kabar bahagia dengan keluarga dan sahabat. Momen ini bisa mempererat hubungan sosial dan menciptakan kenangan indah sebelum bayi lahir. Terlebih lagi, dalam budaya kekinian yang sangat visual dan terhubung digital, momen ini menjadi kesempatan untuk mengekspresikan kreativitas dan gaya personal.
Namun, ada juga yang melihat acara ini sebagai bentuk pemborosan atau tekanan sosial. Biaya untuk menyelenggarakan pesta, membeli properti khusus, hingga menyewa fotografer atau videografer bisa mencapai angka yang tidak sedikit. Apalagi jika tujuan utamanya hanya untuk tampil menarik di media sosial, bukan karena kebutuhan pribadi atau makna mendalam.
Aspek lainnya yang patut dipertimbangkan adalah sensitivitas terhadap stereotip gender. Beberapa pihak mengkritik pesta ini karena memperkuat pandangan tradisional mengenai laki-laki dan perempuan, terutama ketika warna biru selalu diasosiasikan dengan laki-laki dan pink dengan perempuan. Padahal, anak lebih dari sekadar jenis kelamin biologis.
Belum lagi, tak semua pasangan merasa nyaman mengungkap jenis kelamin bayi mereka kepada publik. Beberapa memilih untuk menjaga hal tersebut sebagai momen privat atau bahkan ingin tetap "surprise" hingga hari kelahiran. Maka, tekanan untuk mengikuti tren ini justru bisa membuat sebagian orang merasa kurang atau tertinggal, jika tidak melakukannya.
Pesta gender reveal juga sempat menuai kontroversi akibat insiden yang berujung kecelakaan. Di beberapa kasus, upaya membuat pesta yang spektakuler justru membahayakan, seperti penggunaan kembang api atau ledakan berwarna yang memicu kebakaran. Dari sinilah muncul kritik bahwa selebrasi ini terkadang terlalu berlebihan.
Meski begitu, penting untuk tidak menghakimi keputusan tiap keluarga. Apa yang bermakna dan membahagiakan bagi satu pasangan, belum tentu sama bagi yang lain. Jika dilakukan dengan penuh kesadaran, tanpa tekanan, dan tetap memperhatikan aspek keselamatan serta kesederhanaan, pesta gender reveal bisa menjadi momen yang menyenangkan.
Pertanyaannya bukan lagi "perlu atau tidak", melainkan "untuk siapa dan dengan tujuan apa". Apakah pesta ini dilakukan karena benar-benar ingin berbagi kebahagiaan? Atau semata-mata karena takut ketinggalan tren dan ingin tampil di feed media sosial?
Pada akhirnya, pesta gender reveal hanyalah satu dari sekian banyak cara merayakan kehamilan. Tak ada aturan baku yang mewajibkan semua orang melakukannya. Yang terpenting adalah kenyamanan, kebahagiaan, dan kesiapan calon orang tua dalam menyambut hadirnya sang buah hati, dengan atau tanpa pesta. (*)
Editor : Siti Nur Qasanah