Teras Bogor Viralpedia Wisata dan Kuliner Lifestyle

The Big Four Britpop: Empat Raksasa yang Mendefinisikan Musik Inggris Era 90-an

Abdul Hamid Dhaifullah • Selasa, 17 Juni 2025 | 16:00 WIB
Oasis dalam suatu foto. (pinterest.com)
Oasis dalam suatu foto. (pinterest.com)

JP Bogor – Di pertengahan 1990-an, Inggris bukan hanya merayakan kemenangan sepak bola atau monarki yang terus bertahan di era modern. Negara itu juga tengah menikmati ledakan budaya baru dari stereo dan panggung-panggung musik Britpop mereka. Dan di pusat dari ledakan itu, berdirilah empat nama besar, yaitu Oasis, Blur, Suede, dan Pulp. Dikenal sebagai The Big Four, keempat band ini bukan hanya mendominasi tangga lagu, tapi juga membentuk kembali identitas musik Inggris.

1. Oasis

Dipenuhi semangat kelas pekerja dan keyakinan tinggi pada diri sendiri, Oasis adalah suara dari mereka yang tumbuh di lorong-lorong kota tanpa banyak harapan. Dipimpin oleh dua bersaudara yang kerap bertengkar, Liam dan Noel Gallagher, Oasis menulis lagu-lagu yang seperti doa bagi generasi muda yang penuh ambisi, emosi, dan kejujuran.

 Album "(What's the Story) Morning Glory?" (1995) melambungkan mereka ke puncak dunia. Lagu seperti Wonderwall dan Don’t Look Back in Anger masih dinyanyikan hingga hari ini, membuktikan bahwa Oasis bukan sekadar fenomena sesaat, tapi bagian dari warisan budaya pop Inggris.

2. Blur

Berbeda dengan Oasis yang garang dan lugas, Blur adalah band yang tajam dan penuh ironi. Dipimpin Damon Albarn, Blur menyoroti kehidupan Inggris dari sudut pandang kelas menengah dengan penuh observasi, nostalgia, dan sindiran cerdas. Mereka lebih suka bermain dengan metafora daripada teriakan keras, namun dampaknya tak kalah besar.

Album Parklife (1994) dianggap sebagai manifesto Britpop karena penuh dengan referensi lokal, karakter unik, dan semangat kebangsaan. Blur menampilkan Inggris yang eksentrik, absurd, dan manusiawi. Lagu seperti Girls & Boys dan End of a Century tak hanya menjadi hit, tapi juga cermin zamannya.

3. Suede

Suede datang lebih awal dari semua pemain besar Britpop, dan mereka tidak meminta izin untuk berbeda. Vokal Brett Anderson yang penuh melodi dan lirik-lirik ambigu tentang seksualitas, alienasi, dan pencarian jati diri, menjadikan Suede sebagai pionir dalam menyalakan semangat Britpop.

Dengan single seperti Animal Nitrate dan album debut Suede (1993), mereka menunjukkan bahwa musik Inggris tak harus meniru Amerika. Mereka menghadirkan suara yang glamor namun gelap, puitis namun memberontak, sebuah dunia alternatif di dalam kehidupan urban Inggris.

4. Pulp

Pulp mungkin datang terlambat dalam hal ketenaran, tapi mereka datang dengan tajamnya observasi sosial dan keunikan musikal. Dipimpin oleh Jarvis Cocker, Pulp membawakan kisah-kisah nyata tentang kecanggungan, kelas sosial, pesta narkoba, dan kenangan cinta di lorong sekolah.

Lagu Common People dari album Different Class (1995) menjadi semacam lagu kebangsaan untuk mereka yang merasa tertinggal dalam kehidupan modern. Dengan sentuhan disko dan narasi jujur, Pulp menyampaikan bahwa menjadi “biasa” pun punya keindahan dan makna. (*)

Editor : Siti Nur Qasanah
#pulp #Oasis #britpop #blur #SUEDE