Teras Bogor Viralpedia Wisata dan Kuliner Lifestyle

Tren Capsule Wardrobe yang Kembali Relevan di Tengah Gempuran Fast Fashion

Abdul Hamid Dhaifullah • Jumat, 13 Juni 2025 | 22:25 WIB
Ilustrasi capsule wardrobe. (pinterest.com)
Ilustrasi capsule wardrobe. (pinterest.com)

JP Bogor – Di tengah derasnya arus fast fashion yang menawarkan ribuan desain pakaian baru tiap harinya, muncul kembali sebuah konsep yang justru menawarkan sebaliknya. Konsep itu bernama capsule wardrobe, dan kini sedang kembali naik daun di kalangan mereka yang ingin berdandan tanpa harus tenggelam dalam lautan pakaian.

Dilansir dari laman uselesswardrobe.dk, capsule wardrobe pertama kali muncul di publikasi Amerika pada 1940-an, konsep ini merujuk pada koleksi pakaian yang kecil namun serasi satu sama lain, baik dari sisi warna maupun gaya. Idenya sederhana, yakni lebih sedikit pakaian, lebih banyak kemungkinan gaya. Pendekatan ini membuat pemiliknya bisa menciptakan banyak kombinasi busana dari sedikit potong pakaian.

Konsep ini dihidupkan kembali oleh Susie Faux, pemilik butik di London pada tahun 1970-an, yang mempopulerkan koleksi pakaian seperti rok, celana panjang, dan mantel yang "tak lekang oleh waktu". Kini, puluhan tahun kemudian, capsule wardrobe bukan hanya sekadar gaya berpakaian, tapi juga menjadi bagian dari gaya hidup minimalis dan berkelanjutan.

Lalu bagaimana cara membangun capsule wardrobe? Kuncinya bukan membeli pakaian baru, melainkan mengenali kembali isi lemari sendiri. Saring pakaian yang benar-benar dikenakan, simpan pakaian musiman, dan sisihkan pakaian yang tidak lagi "memercikkan kebahagiaan" seperti yang dianjurkan metode Konmari. Sisanya? Bisa dijual, disumbangkan, atau didaur ulang.

Setiap orang bisa punya capsule wardrobe versi mereka sendiri, tergantung pada iklim tempat tinggal dan kebutuhan hidup. Mereka yang tinggal di daerah tropis, misalnya, tentu akan punya isi lemari berbeda dari yang tinggal di negara empat musim. Intinya bukan jumlah pastinya, tapi kegunaan setiap item yang ada. Beberapa menyarankan jumlah optimal adalah 30–40 item per musim, tapi fleksibilitas tetap jadi kunci utama.

Lebih dari sekadar gaya, capsule wardrobe juga menawarkan solusi terhadap krisis mode masa kini. Di saat limbah tekstil menggunung dan industri fashion berkontribusi besar terhadap emisi karbon global, memilih untuk mengenakan ulang daripada membeli baru adalah langkah kecil yang punya dampak besar.

Dalam dunia di mana tren datang dan pergi dalam hitungan hari, capsule wardrobe mengajak kita untuk melambat, mengenal diri lebih dalam lewat pakaian, dan merayakan gaya yang tak harus selalu baru untuk tetap bermakna. (*)

Editor : Siti Nur Qasanah
#fast fashion #Capsule Wardrobe #pakaian