Teras Bogor Viralpedia Wisata dan Kuliner Lifestyle

Harga Mahal yang Tak Tertera di Label Fast Fashion: Limbah, Emisi Karbon, dan Eksploitasi Pekerja

Abdul Hamid Dhaifullah • Jumat, 13 Juni 2025 | 22:19 WIB
Ilustrasi tumpukan limbah industri fashion. (pinterest.com)
Ilustrasi tumpukan limbah industri fashion. (pinterest.com)

JP Bogor — Tren berpindah lebih cepat daripada musim, dan lemari pakaian kini berubah secepat guliran di layar ponsel. Selamat datang di era fast fashion, tempat gaya datang dalam hitungan hari, dan pakaian bisa dibuang setelah tujuh kali pakai.

Dengan valuasi global mencapai $1,7 triliun dolar pada 2023, industri fashion tak hanya tentang ekspresi diri, tetapi juga bisnis raksasa yang mempekerjakan lebih dari 300 juta orang di seluruh dunia. Sejak awal tahun 2000-an, produksi pakaian melonjak dua kali lipat dipicu oleh permintaan konsumen akan pakaian yang cepat, murah, dan tren terbaru. Tapi di balik diskon besar dan deretan koleksi baru setiap minggu, fast fashion menyimpan ongkos yang tak tertulis seperti limbah, emisi karbon, dan eksploitasi pekerja.

Mengutip dari mckinsey.com, perusahaan seperti Shein dan Temu menjadi raja baru dalam lanskap fashion digital. Pada 2023, 40 persen konsumen di AS dan 26 persen di Inggris telah berbelanja di salah satu dari keduanya. Dengan harga rata-rata hanya $14 per produk di Shein, tak heran mereka disebut sebagai ultrafast fashion, yaitu versi ekstrem dari fast fashion dengan kecepatan produksi mencapai 10.000 desain per hari.

Namun, cepatnya konsumsi berarti cepat pula dibuang. Diperkirakan, tiga dari lima pakaian yang diproduksi akan berakhir di tempat sampah atau dibakar setiap tahunnya. Pada 2030, konsumsi fashion global diperkirakan akan melonjak 63 persen menjadi 102 juta ton. Ini bukan sekadar angka, tapi gunungan kain yang tak akan pernah terurai.

Meski milenial dan Gen Z mulai sadar akan dampak lingkungan dari industri fashion, kesenjangan antara niat dan tindakan masih menganga. Di Inggris, 46 persen pembeli menyatakan menghindari fast fashion, tapi lebih dari separuh tetap berbelanja di toko-toko tersebut. Di Tiongkok, setengah dari Gen Z mengaku ingin mengurangi konsumsi fast fashion, tapi rak-rak digital tetap dipenuhi klik pembelian.

Hal ini karena perubahan bukan hanya soal kesadaran, tapi juga sistem. Konsumen dimanjakan oleh algoritma, diskon, dan pengalaman belanja yang dibuat seintuitif mungkin. Bahkan aplikasi belanja kini dilengkapi fitur permainan, live stream, dan sistem poin yang membuat aktivitas konsumtif terasa seperti hiburan.

Dari sisi industri, komitmen terhadap keberlanjutan banyak yang berjalan di tempat. Menurut laporan The State of Fashion 2025, dua pertiga merek fashion tertinggal dari target dekarbonisasi mereka. Bahkan, 40 persen justru mengalami kenaikan emisi sejak membuat komitmen ramah lingkungan.

Padahal, menurut riset, pengurangan emisi sebesar 60 persen bisa dicapai hanya dengan biaya 1–2 persen dari pendapatan. Caranya adalah dengan beralih ke bahan baku ramah lingkungan, mendorong pemasok menggunakan energi terbarukan, dan menyusun peta jalan dekarbonisasi yang konkret. Tapi semua itu butuh keberanian jangka panjang dan komitmen yang tak bisa didiskon. (*)

Editor : Siti Nur Qasanah
#fast fashion #cepat #emisi karbon #tren